Bagi banyak Ketua RT dan RW, tugas ini bukan hal ringan. Mereka harus menyeimbangkan antara sikap ramah terhadap pendatang dengan tanggung jawab menjaga lingkungan tetap kondusif. Namun, semangat gotong royong yang telah lama menjadi budaya kampung di Surabaya menjadi modal utama dalam menjalankan peran tersebut.
Di sisi lain, Eri juga mengingatkan bahwa momentum Syawal bukan sekadar tradisi saling memaafkan, melainkan waktu untuk membuktikan nilai-nilai yang telah ditempa selama Ramadan. Ia berharap semangat menahan diri, menjaga lisan, dan peduli terhadap sesama tetap hidup dalam keseharian warga.
“Saling memaafkan itu bukan hanya diucapkan, tapi harus terlihat dalam sikap dan tindakan kita sehari-hari,” pesannya.
Dengan sinergi antara pemerintah kota, RT/RW, dan masyarakat, Surabaya diharapkan tetap menjadi kota yang tertib, nyaman, dan penuh kepedulian. Di balik kebijakan besar, ada peran kecil namun vital dari para pengurus lingkungan yang setiap hari bekerja dalam senyap demi menjaga kota tetap berjalan dengan baik.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
