Pemprov Jatim Kerahkan 10 Pompa Air Atasi Banjir di Pasuruan

Lukman Hakim
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa meninjau banjir di Dusun Bandaran, Desa Jarangan, Kecamatan Rejoso. (Foto : Istimewa).

PASURUAN, iNewsSurabaya.id – Gubernur Jawa Timur (Jatim), Khofifah Indar Parawansa, menjelaskan bahwa banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Pasuruan dipicu tingginya intensitas hujan serta luapan anak-anak sungai

Kondisi tersebut diperparah oleh karakter geografis dataran rendah yang membuat air mudah menggenang. “Kalau saya menyebut ini genangan, karena sebenarnya ini aliran dari anak-anak sungai yang ada di sekitar sini,” ujar Khofifah saat meninjau banjir di Dusun Bandaran, Desa Jarangan, Kecamatan Rejoso, Kamis (26/3/2026).

Untuk menangani genangan, Pemerintah Provinsi Jatim bersama Pemerintah Kabupaten Pasuruan telah menyiapkan 10 unit pompa air. Terdiri atas enam unit milik Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi Jatim dan empat unit dari Pemkab Pasuruan.

Namun, Khofifah mengakui pengoperasian pompa belum bisa maksimal saat puncak banjir karena tinggi muka air sungai sejajar dengan daratan. “Kendalanya, tinggi air di sungai sama dengan di daratan. Jadi pemompaan harus menunggu air sungai surut agar bisa efektif,” jelasnya.

Ia menambahkan, banyaknya anak sungai di wilayah Rejoso menjadi tantangan utama dalam penanganan banjir. Oleh karena itu, diperlukan solusi jangka panjang yang lebih komprehensif.

“Ini pekerjaan rumah yang harus kita cari solusi strategis jangka panjang. Perlu duduk bersama, termasuk normalisasi anak sungai agar alirannya bisa terkanalisasi dengan baik, idealnya sampai ke laut,” terangnya.

Selain merendam permukiman, banjir juga berdampak pada sektor pertanian. Sejumlah lahan sawah dilaporkan mengalami gagal panen atau puso akibat terendam air.

Khofifah memastikan Pemprov Jatim akan memberikan bantuan benih kepada petani terdampak setelah proses pendataan selesai dilakukan. “Jika data sudah final, Dinas Pertanian siap membantu benih karena lahan tersebut dinyatakan puso,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa upaya menghilangkan banjir sepenuhnya bukan perkara mudah. Namun, pemerintah akan terus berupaya menekan intensitasnya, termasuk melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

“OMC menjadi salah satu ikhtiar untuk mengurangi intensitas hujan. Namun hari ini menjadi pelaksanaan terakhir karena keterbatasan anggaran yang harus dialokasikan ke program lain,” imbuhnya.

Sementara itu, salah satu warga terdampak, Sumiati, mengaku ketinggian air sempat mencapai perut orang dewasa sebelum dilakukan pemompaan. “Tadi subuh air sampai perut, kami tidak bisa tidur,” ujarnya.

Berdasarkan laporan BPBD Jatim per Kamis (26/3/2026) pukul 06.00 WIB, banjir di Pasuruan disebabkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat sejak 24 Maret 2026 yang memicu luapan sungai, serta diperparah kondisi drainase yang kurang memadai.

Editor : Arif Ardliyanto

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network