Ketegangan memuncak saat sesi ujian berakhir. Begitu peserta keluar ruangan, panitia langsung mengamankan yang bersangkutan untuk dilakukan pemeriksaan lanjutan.
Dari sinilah fakta mengejutkan mulai terkuak. Dokumen yang digunakan peserta, termasuk ijazah dan identitas kependudukan, diduga tidak asli.
Tim Unesa bergerak cepat dengan menghubungi pihak sekolah asal untuk mencocokkan data. Hasilnya cukup mencengangkan.
Nama pada ijazah memang sesuai, namun foto yang tertera berbeda dengan peserta yang mengikuti ujian. Perbedaan ini menjadi titik terang dugaan praktik joki yang sebelumnya hanya berupa kecurigaan.
Tak hanya itu, identitas kependudukan yang digunakan juga terindikasi palsu, memperkuat dugaan adanya upaya sistematis untuk menyusup dalam seleksi nasional.
Menindaklanjuti temuan tersebut, pihak Unesa langsung berkoordinasi dengan panitia pusat UTBK-SNBT dan aparat kepolisian. Langkah ini dilakukan untuk memastikan proses hukum berjalan sesuai ketentuan.
Pihak kampus menegaskan bahwa integritas seleksi menjadi prioritas utama, sehingga setiap bentuk kecurangan akan ditindak tegas.
Kasus ini sekaligus menjadi bukti bahwa sistem pengawasan ketat yang diterapkan mampu mendeteksi kecurangan, bahkan yang dilakukan dengan cara yang terbilang rapi.
Berbagai langkah preventif seperti pemeriksaan berlapis, pembatasan barang bawaan, hingga penggunaan perlengkapan khusus telah diterapkan guna meminimalisir celah kecurangan.
Meski sempat diwarnai insiden, pelaksanaan UTBK-SNBT 2026 di Unesa tetap berlangsung aman dan kondusif. Di balik itu, ada kerja senyap panitia yang memastikan setiap peserta bertanding secara jujur dan adil.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
