SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Guru Besar Departemen Gizi Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. drg. Sandra Fikawati, menyoroti masih besarnya persoalan malnutrisi di Indonesia yang disebutnya sebagai triple burden of malnutrition atau tiga beban masalah gizi sekaligus.
Menurut Sandra, malnutrisi tidak hanya berkaitan dengan kekurangan gizi, tetapi juga mencakup kelebihan gizi yang kini semakin banyak dialami anak-anak di Indonesia.
“Indonesia menghadapi tiga masalah gizi sekaligus, yakni kekurangan gizi makro, kekurangan gizi mikro, dan kelebihan gizi seperti overweight serta obesitas,” ujar Sandra dalam acara Media Gathering Apresiasi Karya Jurnalistik JAPFA (AKJJ) 2026 di salah satu hotel di Surabaya, Selasa (19/5/2026).
Ia menjelaskan, kekurangan gizi makro mencakup stunting, wasting, dan underweight. Stunting merupakan kondisi tinggi badan anak yang tidak sesuai dengan usianya, sementara wasting terjadi ketika berat badan tidak sesuai dengan tinggi badan, dan underweight adalah berat badan yang tidak sesuai dengan umur.
Selain itu, Indonesia juga masih menghadapi masalah kekurangan gizi mikro berupa vitamin dan mineral penting seperti zat besi, vitamin A, yodium, dan zinc.
Sandra mengungkapkan, angka kekurangan zat besi pada anak sekolah di Indonesia masih cukup tinggi dan mencapai hampir 40 persen.
“Walaupun kebutuhan vitamin dan mineral itu kecil, tetapi sangat vital bagi pertumbuhan dan kesehatan anak,” katanya.
Di sisi lain, kasus kelebihan gizi pada anak juga terus meningkat. Menurut Sandra, angka overweight dan obesitas pada anak sekolah di Jakarta bahkan telah mencapai lebih dari 30 persen.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi tantangan besar karena Indonesia menghadapi dua persoalan sekaligus, yakni kekurangan gizi dan kelebihan gizi dalam waktu bersamaan.
Sandra mengingatkan masyarakat agar tidak keliru menyikapi masalah obesitas pada anak dengan membatasi makan secara berlebihan atau menerapkan diet ketat.
“Anak-anak belum waktunya diet karena mereka masih dalam masa pertumbuhan. Kalau anak diet, tinggi badannya juga bisa terganggu,” ujarnya.
Menurutnya, penyebab utama overweight dan obesitas pada anak di Indonesia bukan semata karena makan berlebihan, melainkan kurangnya aktivitas fisik.
Karena itu, Sandra mengapresiasi adanya edukasi mengenai gizi seimbang kepada masyarakat. Ia menjelaskan bahwa konsep “Isi Piringku” yang diperkenalkan Kementerian Kesehatan sejak 2014 menjadi salah satu pedoman penting dalam pola makan sehat anak.
Konsep tersebut menekankan pentingnya mengonsumsi makanan beraneka ragam yang mengandung protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral secara seimbang.
“Tidak ada satu makanan pun yang mengandung seluruh zat gizi secara lengkap. Karena itu anak harus makan beragam pangan,” jelasnya.
Selain pola makan, Sandra juga menekankan pentingnya aktivitas fisik, perilaku hidup bersih dan sehat, serta rutin memantau berat badan dan tinggi badan anak.
Menurutnya, kesehatan anak sangat berpengaruh terhadap proses pertumbuhan. Ketika anak sering sakit, berat badan akan mudah turun dan pertumbuhannya terganggu.
Ia juga menjelaskan bahwa masa pertumbuhan paling cepat terjadi pada usia dini. Pada balita, tinggi badan dapat bertambah hingga sekitar 20 sentimeter per tahun. Sedangkan saat usia sekolah pertumbuhannya hanya sekitar 5 hingga 6 sentimeter per tahun.
Sementara itu, perkembangan otak disebut sudah mencapai sekitar 90 persen pada usia lima tahun. “Karena itu edukasi gizi pada dua tahun pertama kehidupan sangat penting, terutama bagi para ibu,” pungkasnya.
Sementara itu, PT Japfa Comfeed Indonesia melalui program Japfa for Kids terus memperluas upaya penanganan masalah gizi anak di Indonesia. Program tersebut difokuskan pada edukasi pola hidup sehat dan pemenuhan gizi seimbang bagi siswa sekolah dasar.
Head of Corporate Communication & Social Investment Japfa Comfeed Indonesia, Retno Artsanti Alif, mengatakan JAPFA for Kids merupakan program unggulan perusahaan untuk membantu menurunkan angka malnutrisi pada anak.
“Melalui program ini kami ingin memperbaiki gizi anak-anak melalui pendidikan pola hidup sehat dan gizi seimbang, termasuk penyediaan protein hewani dan pembiasaan pola hidup sehat di sekolah,” ujar Retno.
Pada tahun 2026, JAPFA for Kids menjangkau 93 sekolah yang tersebar di 28 provinsi di Indonesia. Jumlah tersebut diseleksi dari total 125 sekolah yang sebelumnya diajukan dalam program.
Adapun lokasi pelaksanaan program tersebar di sembilan wilayah, di antaranya Bintan, Tegal, Sorong, Lamongan, Padang Pariaman, hingga Megamendung.
Retno menjelaskan jumlah peserta program tahun ini mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Jika pada 2025 program menjangkau sekitar 15 ribu siswa, maka pada 2026 meningkat menjadi lebih dari 16 ribu siswa.
“Ada peningkatan dibanding tahun lalu. Tahun kemarin siswanya sekitar 15 ribu, tahun ini sudah lebih dari 16 ribu siswa,” katanya.
Pemilihan lokasi program dilakukan berdasarkan kebutuhan dan usulan dari unit operasional Japfa di masing-masing daerah atau wilayah ring 1 perusahaan. Dalam pelaksanaannya, Japfa juga menggandeng berbagai pihak di daerah seperti Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, hingga puskesmas setempat.
“Kami bekerja sama dengan stakeholder daerah karena program ini tidak mungkin berjalan sendiri. Ada dukungan dari tim setempat dan instansi terkait,” jelasnya.
Menurut Retno, target utama program Japfa for Kids adalah menurunkan angka malnutrisi anak di wilayah sasaran. Berdasarkan hasil evaluasi internal, tingkat penurunan kasus malnutrisi dari program sebelumnya telah mencapai lebih dari 50 persen. “Tahun lalu penurunannya sekitar 51 persen, tahun ini sudah mencapai 62 persen,” ungkapnya.
Japfa juga memiliki sistem dashboard pemantauan untuk memonitor perkembangan program di setiap daerah secara detail bersama para pemangku kepentingan terkait.
Ke depan, Japfa menargetkan jumlah penerima manfaat program terus bertambah. Pada tahun depan, perusahaan menargetkan program Japfa for Kids dapat menjangkau sekitar 17 ribu siswa di berbagai wilayah Indonesia.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
