KARAWANG, iNewsSurabaya.id – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara resmi meluncurkan mandatori Biodiesel B50 di SPBU 34.413.40 Rest Area KM 57A Tol Jakarta - Cikampek, Karawang, Kamis (9/7/2026). Peluncuran ini menjadi tonggak sejarah dalam perjalanan Indonesia menuju kemandirian energi nasional.
Dalam arahannya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa kelangsungan hidup sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kemampuannya memenuhi tiga kebutuhan strategis secara mandiri, yakni pangan, energi, dan air. Sejak sebelum dilantik, ia memang konsisten menekankan agar Indonesia segera lepas dari ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM).
"Ini adalah sebuah prestasi bagi bangsa Indonesia dan saya sangat bangga. Indonesia adalah bangsa besar yang memiliki kekayaan sumber daya alam luar biasa. Kita harus memaksimalkan potensi tersebut agar menjadi bangsa yang mandiri dalam pangan dan energi demi kepentingan masyarakat," tegas Presiden Prabowo.
Implementasi program B50 pada tahun 2026 ini diproyeksikan mampu menghemat devisa negara hingga mencapai Rp170 triliun. Selain itu, langkah ini berkontribusi besar dalam menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 44,46 juta ton CO₂. Pemanfaatan mandatori B50 akan menyasar berbagai sektor strategis, mulai dari otomotif, alat berat pertambangan, mesin pertanian, kereta api, angkutan laut, hingga pembangkit listrik.
Peluncuran berskala nasional ini turut dihadiri langsung oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Ia menyampaikan apresiasi tinggi atas langkah taktis Presiden Prabowo dalam mempercepat transformasi menuju kedaulatan energi.
Menurut Khofifah, implementasi B50 tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tetapi juga memberikan efek berganda (multiplier effect) bagi sektor perkebunan kelapa sawit, industri pengolahan, hingga penguatan ekonomi daerah melalui hilirisasi.
"Peluncuran B50 merupakan langkah besar menuju kedaulatan energi nasional. Kebijakan ini membuktikan komitmen kuat pemerintah untuk memangkas ketergantungan pada impor bahan bakar fosil dengan mengoptimalkan potensi bumi sendiri," ujar Khofifah.
Sebagai salah satu pusat industri, manufaktur, dan logistik terbesar di Indonesia, Khofifah menegaskan bahwa Provinsi Jawa Timur berada di posisi strategis untuk menyokong penuh rantai pasok biodiesel, baik dari segi distribusi maupun pemanfaatan.
"Jawa Timur memiliki seluruh modal untuk menjadi penggerak akselerasi energi berbasis biodiesel. Dengan jaringan pelabuhan dan kawasan industri yang mapan, kami siap memastikan implementasi B50 berjalan optimal di daerah," jelasnya.
Khofifah menambahkan, keberhasilan jangka panjang program B50 memerlukan sinergi yang kokoh antara lima pilar (pentahelix), yaitu pemerintah pusat, daerah, BUMN, pelaku usaha, akademisi, hingga masyarakat.
"Kebijakan ini juga sejalan dengan agenda pembangunan rendah karbon. Dengan semangat kolaborasi, kami optimistis implementasi B50 akan memperkuat ketahanan energi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tangguh dan berkelanjutan," pungkas Khofifah.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
