Kementrans Dorong Petani Jadi Konten Kreator dan Affiliator

Lukman Hakim
Menteri Transmigrasi RI, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara (kiri). (Foto : Lukman Hakim).

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Kementerian Transmigrasi (Kementrans) mendorong masyarakat di kawasan transmigrasi  untuk memanfaatkan teknologi digital dengan menjadi konten kreator dan affiliator.

Langkah tersebut merupakan bagian dari transformasi kebijakan melalui konsep Transmigrasi Digital. Konsep ini mengubah paradigma transmigrasi dari sekadar pemindahan penduduk menjadi pembangunan ekosistem ekonomi modern berbasis teknologi.

Menteri Transmigrasi RI, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, mengatakan kawasan transmigrasi ke depan tidak lagi hanya menjadi sentra pertanian, tetapi juga dikembangkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi yang mampu bersaing di pasar nasional hingga internasional.

"Transmigrasi hari ini bukan lagi sekadar pemindahan orang, tetapi bagaimana kita menciptakan ekosistem ekonomi yang baru," ujar Iftitah di sela FYC Fest 2026: Festival Ekosistem Digital di Surabaya, Sabtu (11/7/2026).

Menurutnya, pemanfaatan teknologi digital akan diterapkan di berbagai sektor. Mulai dari pertanian, perkebunan, pertambangan, migas, hingga pariwisata. Pemerintah ingin teknologi menjadi instrumen utama. Hal ini untuk meningkatkan produktivitas. Tentunya dengan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan pelaku ekonomi digital.

Salah satu strategi yang disiapkan adalah melibatkan para konten kreator dan pelaku affiliate marketing dalam memasarkan produk-produk dari kawasan transmigrasi. Bahkan, para transmigran sendiri akan didorong untuk mempromosikan hasil produksinya melalui berbagai platform digital.

"Kami akan bekerja sama dengan para kreator digital. Para transmigran juga didorong menjadi konten kreator dan affiliator bagi produk mereka sendiri," kata Iftitah.

Ia mengungkapkan, pendekatan tersebut telah menunjukkan hasil positif. Melalui pengolahan produk dan penguatan pemasaran digital, nilai jual sejumlah komoditas pertanian di kawasan transmigrasi meningkat hingga enam kali lipat dibandingkan sebelumnya.

Untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia, Kementrans juga menggandeng berbagai perguruan tinggi dalam program pendampingan masyarakat. Pada tahun lalu, sebanyak 2.000 peneliti dari tujuh perguruan tinggi diterjunkan ke kawasan transmigrasi. Tahun ini, program tersebut melibatkan 1.476 peserta dari 10 perguruan tinggi nasional yang berkolaborasi dengan 143 perguruan tinggi lokal.

"Mereka melakukan riset, pendampingan, hingga pemberdayaan masyarakat agar kawasan transmigrasi memiliki daya saing yang lebih kuat," ujarnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menilai perkembangan teknologi digital harus dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas daerah, bukan sekadar memperluas konsumsi produk dari luar.

Menurut Emil, Jawa Timur yang memiliki nilai perekonomian lebih dari Rp3.000 triliun per tahun berpotensi menjadi penghubung utama antara daerah asal dan tujuan transmigrasi melalui konsep Gerbang Baru Nusantara.

"Kalau kita hanya menjadi pasar tetapi tidak menjadi produsen, digitalisasi justru akan membuat kita lebih banyak menyerap barang dari luar dibanding meningkatkan produktivitas sendiri," tegas Emil.

Karena itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur mendorong pelaku usaha lokal menjadi off-taker atau penyerap produk dari kawasan transmigrasi sehingga tercipta sinergi ekonomi yang saling menguntungkan.

Editor : Arif Ardliyanto

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network