Menteri Ekraf Sebut Ekonomi Kreatif Mampu Jadi Solusi Pengangguran Gen Z dan Milenial

Lukman Hakim
Menteri Ekonomi Kreatif (Ekraf) Teuku Riefky Harsya. (Foto : istimewa).

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Menteri Ekonomi Kreatif (Ekraf) Teuku Riefky Harsya menegaskan sektor ekonomi kreatif telah menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional. 

Menurutnya, pertumbuhan tersebut justru dimulai dari daerah, termasuk Jawa Timur (Jatim) yang dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak industri kreatif nasional.

Pengembangan ekonomi kreatif, kata dia, tidak cukup hanya membuka lapangan kerja, tetapi harus mampu menciptakan pekerjaan yang berkualitas. 

Tentunya dengan didukung peningkatan keterampilan (skill), terutama dalam pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

"Kalau hanya membuka lapangan kerja, nanti akan berhenti di level UMKM. Yang kita butuhkan adalah lapangan kerja berkualitas dengan tambahan skill, terutama adaptasi terhadap perkembangan digital dan AI," ujarnya saat menghadiri Jatim Media Summit 2026 di Surabaya, Kamis (30/7/2026).

Selain peningkatan kualitas SDM, Riefky menilai hilirisasi juga harus diterapkan pada sektor ekonomi kreatif, tidak hanya pada sektor pertambangan. Menurutnya, Indonesia perlu memperkuat produk kreatif lokal agar mampu menggantikan dominasi produk luar negeri di pasar domestik.

"Hilirisasi bukan hanya tambang. Fashion lokal harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri, begitu juga musik, film, gim, aplikasi, dan berbagai produk kreatif lainnya," katanya.

Ia menambahkan, pelaku ekonomi kreatif memiliki kreativitas yang tidak pernah habis. Namun, mereka membutuhkan dukungan pemerintah daerah, media, serta berbagai pemangku kepentingan agar mampu memperluas pasar hingga tingkat regional dan global.

Riefky juga memaparkan capaian sektor ekonomi kreatif yang terus menunjukkan tren positif. Pada 2025, realisasi investasi di sektor ekonomi kreatif mencapai Rp135 triliun atau 134 persen dari target pemerintah. Nilai tersebut setara sekitar 9,5 persen dari total realisasi investasi nasional.

"Artinya, semakin banyak investor yang tertarik menanamkan modal di sektor ekonomi kreatif. Ini merupakan realisasi investasi, bukan sekadar penandatanganan nota kesepahaman," ujarnya.

Dari sisi ekspor, sektor ekonomi kreatif mencatat nilai ekspor sebesar 124 persen dari target atau mencapai sekitar 12 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia. Sebagian besar kontribusi tersebut berasal dari daerah, termasuk Jatim.

Namun demikian, Riefky mengungkapkan bahwa angka tersebut belum memasukkan ekspor jasa kreatif berbasis digital, seperti film yang ditayangkan melalui platform streaming, musik digital, hingga jasa animasi yang dikerjakan kreator Indonesia untuk pasar luar negeri.

"Ekspor jasa kreatif digital ini sedang kami hitung bersama BPS karena potensinya sangat besar terhadap devisa negara," katanya.

Sementara itu, jumlah tenaga kerja di sektor ekonomi kreatif telah mencapai 27,4 juta orang. Sebanyak 63 persen di antaranya berasal dari Generasi Z dan milenial, sedangkan 58 persen merupakan perempuan.

Menurut Riefky, sektor ekonomi kreatif menjadi pilihan generasi muda karena memberikan ruang untuk bekerja sesuai minat, waktu kerja yang fleksibel, serta peluang memperoleh pendapatan lebih tinggi melalui pemanfaatan teknologi digital.

Di sisi lain, ia menyoroti tingginya angka pengangguran terbuka yang masih didominasi Generasi Z dan milenial.

"Dari sekitar 7,5 juta pengangguran, sebanyak 82 persen merupakan Gen Z dan milenial. Ini menunjukkan ekonomi kreatif dapat menjadi salah satu solusi dalam mengurangi pengangguran," ujarnya.

Kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional juga terus meningkat. Saat ini kontribusinya mencapai sekitar 6,86 persen dan dinilai masih berpotensi tumbuh lebih besar, termasuk di Jatim.

Untuk mempercepat pengembangan sektor tersebut, Kementerian Ekonomi Kreatif menyiapkan sejumlah program prioritas. Antara lain penguatan data dan regulasi, peningkatan kapasitas pelaku ekonomi kreatif, pengembangan creative hub, komersialisasi kekayaan intelektual, perluasan akses pembiayaan, hingga penguatan akses pasar.

Editor : Arif Ardliyanto

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network