Aturan Impor Berubah Total, Importir Wajib Tahu Ketentuan Baru Ini agar Tak Kena Hambatan

Arif Ardliyanto
Perubahan regulasi impor menuntut pelaku usaha lebih adaptif. Forum di Semarang mengungkap mayoritas impor Jawa Tengah mencapai 84,39 persen untuk bahan baku industri. Foto iNewsSurabaya.id/ist

SEMARANG, iNewsSurabaya.id – Perubahan regulasi impor yang terus berkembang menuntut pelaku usaha meningkatkan pemahaman terhadap berbagai ketentuan terbaru. Tanpa kesiapan menghadapi perubahan kebijakan, proses pemasukan barang dari luar negeri berpotensi mengalami hambatan yang dapat memengaruhi kelancaran rantai pasok industri.

Hal itu mengemuka dalam Regular Update Session yang digelar KSO SCISI di Semarang, Jawa Tengah, Kamis (30/7/2026). Forum tersebut mempertemukan unsur pemerintah, lembaga surveyor, dan pelaku usaha guna membahas perkembangan kebijakan impor, termasuk Verifikasi atau Penelusuran Teknis Impor (VPTI) serta pemenuhan Standar Nasional Indonesia (SNI).

Pimpinan KSO SCISI, Feruz Robby Nugraha, mengatakan perubahan aturan perdagangan internasional berlangsung sangat cepat sehingga importir harus mampu beradaptasi agar proses impor tetap berjalan sesuai ketentuan.

"Dinamika regulasi impor saat ini berkembang sangat cepat. Pelaku usaha dituntut untuk semakin adaptif dan siap dalam memenuhi berbagai ketentuan, termasuk dalam proses VPTI maupun sertifikasi SNI yang kini menjadi perhatian penting dalam tata niaga impor nasional," ujar Feruz.

Menurutnya, forum tersebut menjadi sarana berbagi informasi sekaligus memperbarui pemahaman pelaku usaha mengenai berbagai regulasi terbaru yang berkaitan dengan aktivitas impor.

Feruz menjelaskan, peserta mendapatkan penjelasan menyeluruh mengenai prosedur VPTI, penerapan SNI, hingga berbagai ketentuan teknis yang harus dipenuhi agar proses impor berlangsung sesuai regulasi.

"KSO SCISI berkomitmen untuk tidak hanya menghadirkan layanan VPTI yang berkualitas, profesional, dan terpercaya, tetapi juga memberikan nilai tambah melalui edukasi, pendampingan, serta penguatan pemahaman terhadap regulasi impor yang terus berkembang," katanya.

Ia menambahkan, sinergi antara pemerintah, surveyor, dan dunia usaha menjadi faktor penting dalam menciptakan sistem tata niaga impor yang tertib, efisien, dan mampu meningkatkan daya saing industri nasional.

Jawa Tengah Andalkan Impor untuk Menopang Industri

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perdagangan Provinsi Jawa Tengah, Suci Baskoro Wati, menilai forum edukasi semacam ini penting untuk meningkatkan koordinasi antara pemerintah dan pelaku usaha.

"Kegiatan ini sangat penting karena mempertemukan pemerintah, lembaga pendukung perdagangan, serta dunia usaha dalam membangun ekosistem perdagangan yang semakin tertib, transparan, dan berdaya saing," ujarnya.

Suci menjelaskan, Jawa Tengah merupakan salah satu pusat manufaktur terbesar di Indonesia sehingga aktivitas impor memiliki peran vital dalam menjaga keberlangsungan sektor industri.

Menurutnya, perhatian publik selama ini lebih banyak tertuju pada ekspor. Padahal, keberhasilan ekspor tidak terlepas dari sistem impor yang mampu menyediakan bahan baku, bahan penolong, hingga barang modal bagi industri dalam negeri.

Data 2026: Bahan Baku Industri Dominasi Impor Jawa Tengah

Berdasarkan data tahun 2026, struktur impor Jawa Tengah didominasi bahan baku dan bahan penolong industri sebesar 84,39 persen. Sementara barang modal mencapai 10,75 persen, sedangkan barang konsumsi hanya 4,86 persen.

Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar barang yang masuk ke Jawa Tengah dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan produksi industri, bukan untuk konsumsi masyarakat.

Komoditas yang paling banyak diimpor meliputi mesin dan peralatan mekanis maupun elektrik beserta komponennya sebesar 26,07 persen, disusul tekstil dan produk tekstil 14,57 persen, serta plastik dan karet 11,22 persen.

Berbagai komoditas tersebut menjadi penopang utama industri tekstil, garmen, alas kaki, furnitur, elektronik, hingga berbagai sektor manufaktur lainnya.

Sementara itu, berdasarkan struktur impor nonmigas, China, Amerika Serikat, dan Vietnam masih menjadi negara pemasok utama dengan kontribusi mencapai 69,81 persen. Kondisi tersebut mencerminkan bahwa impor masih menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung investasi, menjaga kelangsungan produksi, serta memperkuat daya saing industri di Jawa Tengah.

Editor : Arif Ardliyanto

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network