SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Minat baca masyarakat Indonesia menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Namun, peningkatan tersebut masih dihadapkan pada persoalan akses terhadap buku, terutama di sejumlah daerah yang belum memiliki banyak toko buku.
Berdasarkan data Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) masyarakat Indonesia pada 2024 mencapai 72,44 dari skala 100. Angka tersebut meningkat 16,7 poin dibandingkan 2020 yang berada di level 55,74.
Di Jawa Timur, TGM bahkan mencapai 77,15 atau masuk kategori tinggi. Angka tersebut meningkat 13,19 poin dibandingkan 2020 yang berada di level 63,96.
Country Director Big Bad Wolf Books Indonesia, Marthius Wandi Budianto, mengatakan peningkatan minat baca perlu diikuti dengan kemudahan masyarakat mendapatkan buku berkualitas.
Menurutnya, persoalan akses bukan hanya berkaitan dengan kemampuan membeli buku, tetapi juga ketersediaan toko dan jaringan distribusi buku di berbagai daerah.
“Kalau di saya sendiri, nyari barangnya saja agak susah. Mungkin jadinya susah juga bagaimana orang bisa punya minat baca kalau untuk mencari bukunya saja susah,” kata Marthius disela pameran buku Big Bad Wolf Books di Tunjungan Plaza, Rabu (12/8/2026).
Ia mencontohkan sejumlah kota di luar Pulau Jawa yang masih memiliki pilihan toko buku terbatas. Kondisi tersebut membuat masyarakat tidak selalu mudah mendapatkan bahan bacaan yang sesuai kebutuhan.
“Kalau Bapak ke kota-kota seperti Pekanbaru, Balikpapan, atau Pontianak, berapa banyak toko buku yang bisa ditemui di tiap kota? Akses retail toko bukunya memang masih terbatas,” ujarnya.
Menurut Marthius, harga buku juga menjadi faktor lain setelah masyarakat menemukan buku yang dicari. Ketika akses terbatas dan harga relatif tinggi, kesempatan masyarakat untuk mendapatkan buku berkualitas ikut terpengaruh.
“Begitu ketemu, harganya ternyata cukup tinggi. Itu yang juga membatasi masyarakat untuk punya akses ke buku, apalagi dalam kondisi ekonomi seperti sekarang,” katanya.
Menariknya, di tengah perkembangan teknologi digital, Marthius melihat buku fisik masih memiliki pasar yang kuat. Bahkan, menurutnya, generasi Z menunjukkan ketertarikan yang cukup besar terhadap buku.
Ia menyebut sejumlah karya sastra klasik berbahasa Inggris, seperti 1984 dan Animal Farm, kembali banyak diminati pembaca muda.
“Justru kalau dilihat di Gen Z sekarang, mereka bahkan lebih dekat dengan buku dibandingkan generasi sebelumnya. Banyak penulis dan literatur bahasa Inggris klasik yang kembali naik,” ujarnya.
Menurut Marthius, pengalaman membaca buku fisik memberikan sensasi berbeda dibandingkan aktivitas menggunakan gawai. “Experience-nya berbeda daripada doom scrolling ketika membuka handphone,” katanya.
Tingginya minat terhadap buku anak juga menjadi perhatian Big Bad Wolf Books Indonesia. Dalam event di Tunjungan Plaza, penyelenggara menyiapkan 70 persen koleksi yang dibawa merupakan buku anak. Pilihan tersebut berkaitan dengan upaya mendorong anak mengenal bahasa asing sejak usia dini.
“Pada usia muda dan usia dini, belajar bahasa baru atau bahasa asing lebih mudah. Karena itu, kami banyak membawa buku bahasa Inggris untuk membantu anak belajar pronunciation dan berbicara dalam bahasa Inggris,” jelasnya.
Selain buku anak, sekitar 15-20 persen koleksi merupakan buku nonfiksi, termasuk tema pengembangan diri, ekonomi, dan bisnis. Sisanya berupa buku fiksi.
Untuk memenuhi kebutuhan pembaca, Big Bad Wolf Books Indonesia membawa jutaan buku dalam setiap penyelenggaraan. Marthius menyebut jumlahnya dapat mencapai lebih dari 5 juta buku.
Menurutnya, Big Bad Wolf Books Indonesia ingin menjadikan buku sebagai sesuatu yang dapat dijangkau berbagai lapisan masyarakat, termasuk melalui penawaran harga khusus.
“Visi-misi kami memang ingin membuat buku menjadi sesuatu yang bisa diakses oleh semua kalangan masyarakat. Kami sadar akses penduduk Indonesia terhadap buku berkualitas, terutama buku berbahasa Inggris, masih terbatas,” ujarnya.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
