SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Ketahanan pangan tidak hanya soal ketersediaan bahan makanan, tetapi juga bagaimana masyarakat mampu memproduksi pangan secara mandiri. Di Desa Deliksumber, Kabupaten Gresik, kelompok perempuan PKK mulai diperkenalkan dengan teknologi pertanian pintar untuk menghadapi tantangan lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru.
Program tersebut diwujudkan melalui Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Penguatan Ketahanan Pangan Melalui Green Technology Berbasis Smart Farming pada Kelompok PKK di Desa Deliksumber, Kabupaten Gresik.”
Program yang dilaksanakan pada 2026 ini mengusung skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat dengan ruang lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat. Kegiatan melibatkan kolaborasi dosen dari lintas perguruan tinggi dan mahasiswa.
Perempuan PKK Desa Deliksumber Gresik dikenalkan hidroponik DFT berbasis IoT dan tenaga surya untuk memperkuat ketahanan pangan di wilayah rawan banjir. Foto iNewsSurabaya.id/ist
Tim pelaksana diketuai Prof. Dr. Ir. Hamidah Hendrarini, M.Si dari UPN Veteran Jawa Timur. Tim tersebut juga melibatkan Dr. Firza Prima Aditiawan, S.Kom., M.T. dari UPN Veteran Jawa Timur serta Dwiyana Anela Kurniasari, S.P., M.Si dari Universitas Wijaya Putra (UWP).
Dua mahasiswa, Dyah Inkud Daifatur Rahma dan Ilham Rahmi Al Y Yafie, turut terlibat dalam pelaksanaan program.
Pemilihan Desa Deliksumber bukan tanpa alasan. Wilayah tersebut berada di kawasan bantaran Sungai Kali Lamong yang memiliki kerentanan terhadap banjir.
Kondisi itu berpotensi mengganggu aktivitas pertanian masyarakat. Ketika banjir terjadi, lahan dan sarana produksi dapat terdampak, bahkan berisiko menyebabkan gagal panen dan menghambat akses masyarakat terhadap pangan.
Di sisi lain, kelompok PKK Desa Deliksumber yang beranggotakan 28 orang dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak ketahanan pangan keluarga.
Persoalannya, akses terhadap teknologi dan inovasi pertanian masih belum optimal. Karena itu, program PKM ini diarahkan untuk mempertemukan potensi perempuan desa dengan teknologi pertanian yang lebih adaptif.
Hidroponik DFT Terhubung IoT dan Tenaga Surya
Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah hidroponik sistem Deep Flow Technique (DFT) yang terintegrasi dengan Internet of Things (IoT) dan tenaga surya.
Teknologi ini dipilih sebagai alternatif produksi sayuran yang dapat disesuaikan dengan kondisi lingkungan. Sistem hidroponik memungkinkan budidaya dilakukan tanpa bergantung sepenuhnya pada lahan pertanian konvensional.
Sementara itu, integrasi IoT memudahkan pemantauan kondisi budidaya. Penggunaan tenaga surya juga diarahkan untuk meningkatkan efisiensi energi dalam pengoperasian sistem.
Sebanyak dua set instalasi hidroponik akan dikembangkan di Balai Desa Deliksumber. Fasilitas tersebut tidak hanya digunakan untuk menghasilkan sayuran, tetapi juga menjadi sarana belajar bagi anggota PKK.
Melalui fasilitas itu, perempuan desa dapat mempraktikkan secara langsung proses budidaya dengan pendekatan smart farming.
Ada Sekolah Perempuan Tani Hidroponik
Pemberdayaan tidak berhenti pada pemasangan instalasi. Anggota PKK juga mendapatkan pelatihan melalui Sekolah Perempuan Tani Hidroponik.
Materi pendampingan mencakup sejumlah tahapan penting, mulai dari persemaian, pemupukan dan pengelolaan nutrisi, perawatan tanaman, pemanenan hingga pengolahan pascapanen.
Pendekatan tersebut diharapkan membuat anggota PKK tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi memiliki kemampuan untuk mengelola sistem pertanian secara mandiri.
Keterampilan tersebut juga dapat menjadi modal untuk mengembangkan hasil panen sebagai sumber tambahan pendapatan keluarga.
Kolaborasi dengan Universitas Wijaya Putra turut memperluas sasaran program. Tidak hanya berkutat pada teknik budidaya, pendampingan juga diarahkan pada pengembangan kewirausahaan sosial.
Pendekatan tersebut sejalan dengan posisi UWP sebagai Kampus Sociopreneur yang mengembangkan visi menjadi universitas terkemuka dalam pengembangan sociopreneurship berbasis riset pada 2030.
Melalui pendekatan ini, perempuan desa didorong memiliki kemandirian ekonomi sekaligus jiwa kepemimpinan sosial.
Artinya, hasil program tidak hanya diukur dari kemampuan menghasilkan sayuran, tetapi juga dari sejauh mana kelompok PKK mampu mengelola potensi tersebut menjadi kegiatan produktif yang memberikan manfaat bagi keluarga dan lingkungan sekitar.
Limbah Hidroponik Tidak Dibiarkan Terbuang
Aspek lingkungan juga menjadi perhatian dalam program tersebut. Limbah organik yang muncul setelah proses budidaya dan panen akan dikelola menggunakan Mesin Teknologi Tepat Guna (TTG).
Pengolahan tersebut memungkinkan limbah organik dimanfaatkan kembali sebagai bahan olahan yang mendukung konsep pertanian berkelanjutan.
Dengan demikian, program tidak hanya berbicara mengenai peningkatan produksi pangan. Pengelolaan limbah juga menjadi bagian dari upaya mengurangi pembuangan sampah organik ke lingkungan.
Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan manfaat yang lebih luas, mulai dari peningkatan keterampilan anggota PKK, akses terhadap pangan sehat, peluang ekonomi dari hasil panen hingga kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
Program PKM ini juga dikaitkan dengan pencapaian sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 2 Tanpa Kelaparan, SDG 5 Kesetaraan Gender, dan SDG 12 Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
Kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah desa, masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kapasitas sumber daya manusia.
Perpaduan karakter bela negara yang dibawa UPN Veteran Jawa Timur dengan pendekatan sociopreneurship UWP diarahkan untuk menghasilkan pemberdayaan yang memiliki dampak langsung bagi masyarakat.
Ke depan, model pemberdayaan perempuan berbasis teknologi pertanian tersebut diharapkan dapat dikembangkan di daerah lain yang menghadapi persoalan serupa, terutama kawasan yang rentan terhadap banjir dan gangguan produksi pangan.
Program “Penguatan Ketahanan Pangan Melalui Green Technology Berbasis Smart Farming pada Kelompok PKK di Desa Deliksumber, Kabupaten Gresik” menjadi salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mendorong masyarakat agar lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan.
Bukan sekadar memasang teknologi, program ini menempatkan perempuan desa sebagai bagian penting dari proses produksi pangan, pengelolaan lingkungan, sekaligus pengembangan ekonomi masyarakat.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
