Berbeda dari perayaan tahun-tahun sebelumnya, DPC PDIP Surabaya memilih menggelar peringatan HUT RI secara lebih sederhana.
Rangkaian kegiatan hanya diisi dengan upacara bendera dan pemotongan tumpeng. Tidak ada perlombaan maupun agenda hiburan seperti yang biasanya mewarnai perayaan kemerdekaan.
Menurut Agatha, kondisi tersebut berkaitan dengan fokus partai terhadap pelaksanaan Soekarno Cup yang digelar DPP PDIP di Kota Surabaya dan masih berlangsung hingga akhir Agustus.
“Tidak ada acara yang spesifik seperti tahun-tahun sebelumnya karena saat ini kami juga fokus pada Soekarno Cup yang ditempatkan di Kota Surabaya,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Agatha juga mengingatkan kader mengenai posisi PDIP sebagai partai yang menempatkan rakyat sebagai bagian penting dalam perjuangannya.
Ia meminta kader di seluruh tingkatan tidak hanya aktif dalam kegiatan internal partai. Mereka juga harus rutin turun ke masyarakat, mendengar keluhan warga, dan ikut mencari jalan keluar atas persoalan yang dihadapi.
“PDI Perjuangan berkoalisi dengan rakyat. Maka sudah wajib hukumnya bagi seluruh kader untuk datang ke rakyat, bertemu rakyat, ngobrol dengan rakyat, dan mendengarkan apa yang menjadi kesulitan rakyat,” tegasnya.
Agatha menyebut PDI Perjuangan saat ini menjalankan fungsi sebagai partai penyeimbang. Dukungan terhadap pemerintah tetap diberikan sepanjang kebijakan yang dijalankan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Namun, pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan juga dinilai tetap penting. Jika ditemukan kekurangan, partai akan menyampaikan kritik sekaligus menawarkan solusi.
“Kalau program pemerintah pro rakyat, tentu akan kami dukung. Tetapi dalam pelaksanaannya tetap harus ada pengawasan. Ketika ada yang kurang tepat, kami wajib menyampaikan kritik dan juga solusi. Namun jika ada kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat, maka kami harus menyuarakan apa yang menjadi kegelisahan rakyat,” katanya.
Selain persoalan kebencanaan dan kehadiran kader di tengah masyarakat, Agatha turut menyoroti peran generasi muda.
Menurutnya, kecintaan terhadap Indonesia tidak cukup hanya disampaikan melalui slogan. Anak muda harus mendapatkan ruang untuk mengembangkan kemampuan, berkompetisi, sekaligus membangun karakter.
Ia menilai penyelenggaraan Soekarno Cup menjadi salah satu bentuk pemberian ruang tersebut. Ajang ini tidak hanya berkaitan dengan kompetisi, tetapi juga dapat menjadi tempat bagi generasi muda belajar mengenai sportivitas, kerja sama, dan mental juara.
“Kita tidak bisa hanya menuntut anak muda untuk cinta Indonesia. Kita harus memberikan ruang kepada mereka. Soekarno Cup adalah salah satu cara memberikan ruang kepercayaan kepada generasi muda agar mereka bisa berkompetisi secara sehat dan membangun karakter yang kuat,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Hukum dan Advokasi Ronny Berty Talapessy menekankan pentingnya kader untuk tetap berada di tengah masyarakat.
Ia meminta kader tidak hanya hadir ketika momentum politik berlangsung. Kehadiran kader harus dirasakan masyarakat dalam berbagai persoalan, termasuk ketika warga membutuhkan bantuan hukum dan advokasi.
“Sebagai kader PDI Perjuangan harus selalu berada di tengah rakyat dan terus turun untuk mendampingi serta membantu rakyat yang membutuhkan bantuan hukum dan advokasi,” tegas Ronny.
Ronny menilai semangat perjuangan para pendiri bangsa harus diteruskan melalui keberpihakan terhadap masyarakat. Kader, kata dia, harus mampu menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi warga.
Peringatan HUT ke-81 RI di Kantor DPC PDI Perjuangan Surabaya berlangsung khidmat. Selain upacara bendera, kegiatan dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng sebagai ungkapan syukur atas perjalanan bangsa Indonesia.
Momentum kemerdekaan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa semangat perjuangan tidak hanya dilakukan melalui kegiatan organisasi. Kepedulian terhadap korban bencana di NTT dan keberadaan kader di tengah masyarakat menjadi bagian dari upaya menerjemahkan semangat gotong royong dalam kehidupan sehari-hari.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
