Setelah kepercayaan korban terbentuk, pelaku mulai meminta uang dengan berbagai alasan. Di antaranya kebutuhan darurat medis, tawaran investasi yang ternyata fiktif, hingga biaya pengiriman hadiah yang sebenarnya tidak pernah ada.
Mayoritas korban dalam perkara tersebut disebut merupakan WNI. Namun, terdapat pula sejumlah warga negara asing yang menjadi sasaran.
Pola manipulasi tersebut membuat korban berada dalam kondisi emosional sehingga lebih mudah dipengaruhi. Pada tahap akhir, korban diarahkan untuk melakukan transfer uang hingga mengalami kerugian finansial.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
