JOMBANG, iNewsSurabaya.id – Bursa calon Rais Aam PBNU dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang semakin menjadi perhatian. Di tengah dinamika pemilihan pimpinan tertinggi Syuriyah NU, nama KH Miftachul Akhyar kembali mencuat dan mendapat dukungan dari sejumlah pengurus NU di daerah.
Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya itu dinilai memiliki pengalaman serta kapasitas keulamaan yang dibutuhkan untuk menjaga arah perjuangan NU, khususnya ketika organisasi memasuki abad kedua.
Sosok KH Miftachul Akhyar juga dianggap memiliki posisi penting dalam menjaga kewibawaan Syuriyah sekaligus memastikan keputusan organisasi tetap berpijak pada tradisi keulamaan dan khittah NU.
Perjalanan keilmuan KH Miftachul Akhyar telah dibangun sejak usia belia. Ia mulai menimba ilmu di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, ketika berusia sekitar delapan tahun.
Perjalanan tersebut kemudian berlanjut ke sejumlah pesantren, di antaranya Rejoso atau Darul Ulum, Sidogiri, serta Al-Islah Soditan Lasem. Ia juga tercatat berguru melalui majelis Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki.
Jejak pendidikan tersebut menjadi salah satu alasan munculnya pandangan bahwa KH Miftachul Akhyar memiliki bekal keilmuan yang kuat untuk kembali memimpin Syuriyah PBNU.
Bukan hanya soal keilmuan, sikap dalam menjalankan amanah organisasi juga menjadi bagian dari rekam jejaknya.
Pada 2022, KH Miftachul Akhyar memilih mundur dari posisi Ketua Umum MUI. Keputusan tersebut diambil untuk lebih fokus menjalankan pengabdian sekaligus menghindari rangkap jabatan.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
