SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Ruang kelas kini tidak lagi cukup diisi dengan guru yang menjelaskan materi dan siswa yang mencatat. Perubahan cara belajar membuat pendidik dituntut menghadirkan proses pembelajaran yang mampu memancing siswa untuk berpikir, berdiskusi, mengeksplorasi hingga menemukan pemahaman sendiri.
Tantangan tersebut menjadi perhatian dalam pelatihan “Cambridge Learning in Action” yang digelar Cambridge International Education di Elyon Christian Secondary High School, Surabaya, pada Agustus 2026.
Mengangkat tema “From Teaching Approaches to Classroom Practice: Supporting Active and Meaningful Learning Experiences”, kegiatan ini mempertemukan para pendidik untuk mengembangkan pendekatan mengajar sekaligus menerapkannya dalam situasi pembelajaran di kelas.
Teaching and Learning Manager Elyon Christian School, Olivia Tiono, mengatakan kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi para pendidik untuk terus meningkatkan kemampuan sekaligus mengevaluasi praktik pembelajaran yang selama ini dilakukan.
“Kami bangga dan berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan Cambridge International Education sebagai tuan rumah penyelenggaraan Cambridge Learning in Action. Semoga kolaborasi ini bisa terus menghadirkan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan, khususnya di Jawa Timur,” ujar Olivia.
Menurut Olivia, pelatihan tersebut merupakan complimentary professional development workshop yang dirancang untuk memperkuat pemahaman pendidik terhadap pendekatan pembelajaran Cambridge.
Namun, kegiatan tidak berhenti pada pemahaman konsep. Para guru juga diajak melihat bagaimana filosofi pembelajaran tersebut dapat diterjemahkan menjadi strategi yang bisa digunakan dalam aktivitas belajar sehari-hari.
“Melalui pelatihan ini, para guru dibekali strategi praktis untuk menciptakan pengalaman belajar yang aktif, kolaboratif, dan bermakna bagi siswa,” katanya.
Peserta pelatihan berasal dari guru mata pelajaran Global English, Mathematics, dan Science. Latar belakang pengalaman mereka pun beragam, mulai dari pendidik yang baru mengenal kurikulum Cambridge hingga guru yang sudah cukup lama menerapkannya.
Dalam pelaksanaannya, peserta dibagi ke dalam beberapa sesi berdasarkan bidang studi. Jalur Global English dipandu Evelyn Boey yang mengajak para guru mengeksplorasi sejumlah pendekatan dalam pembelajaran bahasa.
Sementara itu, jalur Mathematics & Science dipandu Dicky Susanto melalui materi Thinking Mathematically and Scientifically serta Bringing Enquiry and Exploration into the Classroom.
Metode pelatihan dibuat lebih dekat dengan situasi nyata di sekolah. Guru tidak hanya menerima paparan materi, tetapi juga mencoba berbagai strategi yang nantinya dapat disesuaikan dengan karakter siswa dan kebutuhan pembelajaran.
Sejumlah aspek menjadi perhatian, mulai dari bagaimana membangun keterlibatan siswa, menumbuhkan rasa ingin tahu, membuka ruang kolaborasi hingga melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi.
Pendekatan tersebut juga memberikan manfaat berbeda bagi setiap peserta. Guru yang baru mengenal pendekatan Cambridge mendapatkan kesempatan memahami filosofi pembelajaran secara lebih utuh. Sementara bagi pendidik yang sudah berpengalaman, kegiatan tersebut dapat menjadi ruang untuk melakukan refleksi sekaligus memperbarui metode mengajar.
Direktur Pendidikan sekaligus Cambridge PDQ Programme Leader di Elyon Christian School, Fritzie Wibisono, mengatakan peningkatan kompetensi guru tidak dapat dipisahkan dari upaya membangun kualitas pendidikan.
“Menjadi bagian dari Cambridge bukan hanya tentang menggunakan kurikulum Cambridge, tetapi juga tentang membangun budaya belajar bagi para pendidik. Ketika guru terus berkembang, kualitas pengalaman belajar siswa juga ikut berkembang,” jelasnya.
Perwakilan Cambridge International Education, Rizky Konstantinovha, turut mengapresiasi antusiasme para pendidik selama mengikuti pelatihan. Menurutnya, pengembangan profesional guru secara berkelanjutan menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan kebutuhan pembelajaran.
Pelatihan tersebut pada akhirnya tidak hanya diarahkan untuk menambah pengetahuan pendidik. Lebih jauh, pengalaman yang diperoleh diharapkan mampu mendorong perubahan dalam praktik belajar mengajar ketika guru kembali ke sekolah masing-masing.
Dengan pendekatan yang lebih aktif, siswa diharapkan tidak hanya mengejar capaian akademik. Mereka juga memiliki ruang untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, bekerja sama, mengeksplorasi gagasan serta menghubungkan pengetahuan yang dipelajari dengan persoalan dalam kehidupan sehari-hari.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan pendidikan tidak hanya bergantung pada kurikulum. Kemampuan guru untuk terus belajar dan menyesuaikan cara mengajar juga menjadi bagian penting agar proses pembelajaran tetap relevan dengan kebutuhan siswa.
Ketika pendidik bersedia memperbarui pendekatannya, ruang kelas pun memiliki peluang lebih besar untuk menjadi tempat siswa tidak sekadar menerima informasi, tetapi aktif mencari, menguji, dan membangun pemahamannya sendiri.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
