Persoalan komunikasi ternyata juga dirasakan langsung oleh para peserta. Dini Eka, siswi SMK IPIEMS, mengatakan miskomunikasi dapat terjadi ketika anggota mengambil keputusan atau merancang kegiatan tanpa membicarakannya terlebih dahulu dengan anggota lain.
"Intinya kita harus diskusi dulu supaya nggak miskomunikasi," kata Dini.
Menurut dia, organisasi juga membutuhkan sistem kerja yang lebih terstruktur. Penyusunan jadwal hingga rundown kegiatan dinilai dapat membantu setiap anggota mengetahui tugas dan tahapan yang harus dikerjakan.
Dengan pembagian tersebut, pekerjaan tidak hanya menumpuk pada pengurus tertentu. Setiap anggota dapat mengetahui kapan harus bekerja dan apa yang menjadi tanggung jawabnya.
Sementara itu, Alisa Rahma, siswi SMK IPIEMS, melihat persoalan komunikasi terkadang berkaitan dengan sikap anggota yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi.
"Kalau masalah yang sering muncul itu kaya miskom. Terus kebanyakan anak-anak itu kayak egois, minta dimengertiin," ujar Alisa.
Ia menilai persoalan internal tidak seharusnya dibiarkan berlarut-larut. Anggota perlu duduk bersama untuk membicarakan masalah secara terbuka sehingga setiap pihak dapat menyampaikan persoalan dan mencari jalan keluar bersama.
Menurut Alisa, komunikasi dan transparansi menjadi dua hal yang perlu diperkuat agar hubungan antaranggota lebih solid dan koordinasi organisasi tidak mudah terganggu.
Selain persoalan internal, Arif mengingatkan organisasi kepemudaan agar tidak menjadikan banyaknya kegiatan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.
Setiap program, kata dia, seharusnya dimulai dari persoalan yang ingin diselesaikan. Setelah itu organisasi menentukan aktivitas yang tepat, melihat hasil yang diperoleh, kemudian mengukur perubahan atau dampak setelah program dilaksanakan.
"Jadi jangan hanya berpikir kegiatan ini sudah terlaksana atau belum. Yang lebih penting adalah persoalan apa yang ingin diselesaikan dan perubahan apa yang dihasilkan setelah kegiatan," jelasnya.
Pola tersebut membuat organisasi memiliki dasar dalam menentukan prioritas. Tidak semua persoalan harus ditangani sekaligus. Organisasi dapat memilih masalah yang paling relevan dan memiliki dampak lebih besar bagi masyarakat atau lingkungan sekitar.
Ketua Tim Kerja Penguatan Pemuda Bidang Kepemudaan Disbudporapar Kota Surabaya Achmad Meydana, S.T., mengatakan pelatihan keorganisasian memiliki peran penting dalam membekali pemuda.
"Hasil kegiatan perlu dikomunikasikan kepada publik sebagai bagian dari dokumentasi dan citra organisasi. Pemuda harus mengerti dan memanfaatkan kemajuan yang ada dan cara berorganisasi dengan benar," katanya.
Meski demikian, publikasi tidak semestinya menjadi tujuan utama sebuah kegiatan. Dokumentasi dan penyampaian informasi kepada masyarakat perlu berjalan setelah organisasi memiliki hasil atau dampak nyata yang dapat ditunjukkan.
Dengan demikian, penguatan organisasi kepemudaan bukan hanya soal seberapa sering kegiatan digelar. Lebih dari itu, organisasi perlu memastikan komunikasi berjalan, tugas terbagi secara jelas, persoalan diselesaikan bersama, dan setiap program memiliki tujuan serta dampak yang dapat diukur.
Kondisi tersebut menjadi penting agar organisasi pemuda tidak berhenti sebagai wadah berkegiatan, tetapi mampu menjadi ruang bagi anggotanya untuk belajar bekerja sama, mengambil keputusan, menyelesaikan masalah, dan memberikan manfaat bagi lingkungan.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
