Energi Bersih dan Peta Baru Industri Indonesia

OPINI
Wakil Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI), Didik Prasetiyono. (Foto : istimewa).

Hal tersebut juga berpengaruh terhadap pembiayaan. Banyak proyek energi terbarukan menghadapi kesenjangan antara potensi dan investasi. Sumber energinya tersedia, teknologinya ada, tetapi proyek tersebut belum tentu layak didanai. Kepastian pengguna listrik, struktur offtake, kesiapan jaringan, perizinan, biaya modal, dan pembagian risiko sering kali lebih menentukan daripada potensi teknis semata.

Pembicaraan selama rangkaian UNGA 81 memperlihatkan persoalan yang serupa. Pembiayaan terus muncul ketika diskusi beralih dari target ke implementasi. Dalam konteks energi, modal akan mencari proyek yang memiliki permintaan yang jelas, risiko yang dapat diukur, tata kelola yang memadai, dan jalur implementasi yang masuk akal.

Di sini, gagasan renewable energy zone menjadi menarik bagi Indonesia. Sumber energi, transmisi, penyimpanan, lahan, dan kebutuhan pengguna dapat direncanakan dalam satu wilayah atau koridor pengembangan. Kawasan industri dapat menjadi salah satu simpul karena permintaan listrik dalam skala besar bertemu langsung dengan kegiatan produksi dan investasi.

Dengan cara pandang tersebut, kawasan industri tidak ditempatkan sebagai penerima listrik pada ujung sistem. Data permintaannya justru dapat menjadi salah satu masukan untuk menentukan di mana pembangkit, jaringan, gardu induk, dan penyimpanan energi perlu dibangun.


Energi Surya, Baterai, dan Rantai Pasok Baru

Baterai membawa dimensi industri yang menarik bagi Indonesia. Pertumbuhan BESS secara global akan meningkatkan permintaan terhadap mineral, sel baterai, modul, power conversion system, perangkat lunak, integrasi sistem, hingga jasa operasi dan pemeliharaan. Pada tahap berikutnya akan tumbuh pula kebutuhan akan daur ulang dan pengelolaan baterai pada akhir masa pakainya.

Indonesia memiliki posisi yang khas karena berada di dua sisi sekaligus: memiliki sumber daya mineral yang penting bagi industri baterai dan berpotensi menjadi pasar penyimpanan energi yang besar. Kesempatannya, karena itu, tidak berhenti pada ekstraksi mineral.

Rantai nilai yang lebih panjang memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih besar. Namun, pasar global juga bergerak menuju tuntutan yang lebih tinggi terhadap jejak karbon, keterlacakan material, kondisi tenaga kerja, keselamatan, hubungan dengan masyarakat, dan daur ulang. 

Di bagian inilah prinsip ESG relevan secara praktis. Bukan sebagai label tambahan pada proyek energi, melainkan sebagai bagian dari kualitas rantai pasok dan pengelolaan industri yang semakin diperhatikan oleh investor serta pembeli global.

Persoalan SDGs juga dapat dibaca dari sudut pandang yang sama. SDG 7 berbicara tentang akses terhadap energi yang terjangkau, andal, berkelanjutan, dan modern. Empat unsur itu mempunyai konsekuensi praktis bagi Indonesia. Energi perlu semakin bersih, tetapi tetap harus tersedia saat dibutuhkan dan dengan biaya yang dapat ditanggung oleh masyarakat maupun industri.

Pengalaman yang dibawa dari berbagai negara ke New York menunjukkan betapa beragamnya persoalan implementasi. Brasil berbicara mengenai curtailment. Sejumlah negara di Afrika menghadapi biaya modal yang tinggi. Negara dengan penetrasi energi terbarukan yang lebih tinggi mulai membahas fleksibilitas jaringan dan desain pasar. 

Negara kepulauan masih bergulat dengan ketergantungan pada bahan bakar impor. Industri baterai mulai memberikan perhatian lebih besar pada mineral kritis dan transparansi rantai pasok. Teknologinya bergerak cepat. Sistem yang mengelilinginya harus mengejar.

Editor : Arif Ardliyanto

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3 4 5 6

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network