SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Penyakit jantung kini tak lagi identik dengan kelompok lanjut usia. Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian terhadap serangan jantung pada usia muda semakin besar karena kasusnya juga dapat terjadi pada kelompok berusia di bawah 40 tahun.
Dokter Spesialis Jantung RS Premier Surabaya, dr. Christian Pramudita Budianto, Sp.JP, mengatakan perubahan pola hidup menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai. Kebiasaan merokok dengan intensitas tinggi, pola makan tidak sehat, hingga obesitas dapat meningkatkan risiko penyakit jantung pada usia produktif.
"Rokok dengan intensitas tinggi, disertai gaya hidup tidak sehat seperti obesitas menjadi penyebab paling sering pada usia di bawah 40 tahun," kata dr. Christian.
Menurutnya, kebiasaan sehari-hari yang terlihat sederhana juga perlu diperhatikan. Salah satunya konsumsi kopi yang kerap disertai gula, krimer, atau susu kental manis.
Di kalangan anak muda, kopi juga sering dikonsumsi bersama camilan berkalori tinggi. Kombinasi tersebut dapat meningkatkan asupan gula dan kalori apabila dilakukan terlalu sering.
"Yang jahat itu kalau kopi dicampur gula, krimer, dan susu kental manis. Pendamping kopi seperti pisang goreng juga menaikkan kadar gula darah pemicu serangan jantung," ujarnya.
Selain pola makan, kurang tidur dan stres yang menumpuk juga menjadi bagian dari pola hidup yang perlu diperhatikan. Beban pekerjaan yang tinggi dapat membuat seseorang mengurangi waktu istirahat dan mengabaikan kebutuhan tubuh untuk memulihkan kondisi.
"Kurangnya istirahat, akumulasi stres, ditambah gaya hidup buruk menyebabkan terjadinya serangan jantung. Jadi bukan semata-mata stres karena pekerjaan banyak lalu langsung terkena serangan," jelasnya.
Salah satu persoalan yang sering terjadi pada kelompok usia muda adalah mengabaikan gejala. Nyeri dada setelah aktivitas fisik terkadang dianggap hanya sebagai kelelahan atau keluhan ringan.
Padahal, menurut dr. Christian, karakter nyeri dada perlu diperhatikan, terutama jika muncul ketika atau setelah seseorang melakukan aktivitas fisik.
"Nyeri dada karena sakit jantung itu sensasinya seperti ditindih barang berat. Jangan meremehkan hal ini, apalagi jika terjadi saat atau setelah beraktivitas fisik," tegasnya.
Karena itu, olahraga tetap dianjurkan sebagai bagian dari upaya menjaga kebugaran. Namun, olahraga dengan intensitas tinggi juga perlu dilakukan secara terukur, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko penyakit jantung.
"Orang dengan rutinitas olahraga intensitas tinggi seperti voli atau lari wajib melakukan medical check up. Serangan jantung bisa muncul mendadak seusai aktivitas fisik," paparnya.
Di Jawa Timur, penanganan penyakit jantung dan kondisi darurat terkait kardiovaskular kini didukung berbagai fasilitas pemeriksaan dan tindakan medis.
Salah satunya tersedia di RS Premier Surabaya melalui Heart and Vascular Center. Fasilitas tersebut memiliki sejumlah perangkat pemeriksaan jantung, mulai dari EKG, treadmill test, echocardiografi, Holter monitoring, CT Cardiac dengan CT Scan 512 slice, MRI Cardiac dengan MRI 3 Tesla, hingga dua Cath Lab (CAU).
Rumah sakit tersebut juga memiliki tiga ruang operasi dan Intensive Care Unit (ICU) yang mendukung prosedur bedah jantung serta proses pemulihan pasien setelah operasi.
Pemeriksaan dapat dilakukan sesuai kondisi pasien, mulai dari rekam jantung dan pemeriksaan laboratorium darah hingga treadmill test serta CT scan atau MRI jantung untuk membantu mendapatkan gambaran kondisi jantung secara lebih detail.
Layanan jantung RS Premier Surabaya juga masuk dalam daftar Best Specialized Hospitals Asia Pacific 2026. Untuk kategori cardiac surgery atau bedah jantung, layanan tersebut tercatat berada di peringkat ke-67 Asia Pasifik dan urutan pertama di Indonesia.
"Fasilitas kami di RS Premier Surabaya sangat lengkap mulai CT scan hingga pemasangan ring jantung," pungkas dr. Christian.
Dengan perubahan pola penyakit tersebut, kelompok usia muda perlu lebih memperhatikan faktor risiko penyakit jantung. Kebiasaan merokok, pola makan tinggi gula dan kalori, kurang tidur, stres yang menumpuk, serta aktivitas fisik berintensitas tinggi tanpa pemeriksaan yang memadai menjadi hal yang patut diperhatikan.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
