Karya Anak Penyandang Disabilitas Disulap Jadi Produk UMKM Bernilai Ekonomi

Lukman Hakim
Jatim Fest 2026 di Grand City Convex Surabaya. (Foto : Istimewa).

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Sebuah karya seni yang lahir dari kreativitas anak penyandang disabilitas kini memiliki nilai ekonomi dan menjadi bagian dari produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). 

Kisah tersebut datang dari Athaya Arts, UMKM asal Malang yang memadukan kreativitas, inklusivitas, dan keberlanjutan dalam mengembangkan produk fashion serta kriya.

Karya seni tersebut dibuat oleh anak pemilik Athaya Arts yang merupakan penyandang disabilitas. Dengan menggunakan alat-alat dapur sebagai media berkarya, lukisan yang dihasilkan kemudian dikembangkan menjadi bagian dari produk UMKM. Sehingga dapat dinikmati lebih banyak orang sekaligus memiliki nilai ekonomi.

Perjalanan tersebut menjadi bagian dari karakter Athaya Arts yang sejak 2021 mengembangkan usaha berbasis seni lukis hingga merambah produk fashion dan kriya. Kini, produk yang dihasilkan tidak hanya membawa nilai kreativitas, tetapi juga pesan tentang pentingnya membuka ruang bagi karya penyandang disabilitas.

Athaya Arts menjadi salah satu UMKM yang tampil dalam Jatim Fest 2026 di Grand City Convex Surabaya, 30 September hingga 4 Oktober 2026. Dalam kegiatan tersebut, Athaya Arts hadir melalui pendampingan PT Danareksa (Persero), salah satu anggota Holding BUMN Danareksa.

Owner Athaya Arts mengatakan kesempatan mengikuti pameran tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan produk yang memiliki kekuatan pada sisi inklusivitas dan keberlanjutan.

“Alhamdulillah saya senang sekali bisa menjadi bagian dari pameran Jatim Fest 2026, terlebih bisa membawa produk dari Athaya Arts yang punya kelebihan di sisi inklusivitas dan sustainability,” ungkapnya, Minggu (4/10/2026).

Tidak berhenti pada karya seni, Athaya Arts juga berupaya mengubah material yang sebelumnya menjadi sisa menjadi produk yang memiliki nilai guna. Material perca diolah kembali melalui konsep upcycling menjadi berbagai produk fashion dan aksesori.

Sejumlah produk yang dibawa dalam Jatim Fest 2026 antara lain outer, sepatu, kalung, serta berbagai produk berbahan dasar perca. Pendekatan tersebut membuat Athaya Arts tidak hanya menjual produk, tetapi juga membawa pesan tentang pemanfaatan kembali material dan pengurangan limbah.

Konsep tersebut menjadi bagian dari upaya Athaya Arts menggabungkan aspek pemberdayaan, inklusivitas, dan kepedulian terhadap lingkungan. Produk yang dihasilkan disebut memenuhi sedikitnya empat kriteria Sustainable Development Goals (SDGs).

Bagi Athaya Arts, pameran juga menjadi kesempatan untuk memperluas pengenalan produk di luar kota asal. Setelah sebelumnya bertemu dengan PT Danareksa dalam kegiatan lain, Athaya Arts kemudian mendapat kesempatan mengikuti Jatim Fest 2026 di Surabaya.

“Dengan pameran ini kesempatan kita mengenalkan produk-produk kami bisa lebih luas, tidak hanya di kota asal, tapi juga ke kota lain. Harapannya Athaya Arts bisa lebih berkembang lagi sehingga banyak orang akan lebih mengenal produk kami lagi,” ujarnya.

Ke depan, Athaya Arts masih berupaya memperkuat pemasaran digital sekaligus meningkatkan kapasitas produksi. Salah satu kebutuhan yang tengah dipersiapkan adalah ruang produksi atau workshop yang lebih memadai.

Dengan fasilitas tersebut, Athaya Arts berharap dapat melibatkan lebih banyak orang dalam proses pengolahan material perca sekaligus memperluas ekosistem usaha yang dibangun.

Kisah Athaya Arts menunjukkan bahwa produk UMKM tidak selalu lahir dari proses produksi konvensional. Kreativitas anak penyandang disabilitas dapat menjadi bagian dari karya yang kemudian dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi, sekaligus membuka ruang yang lebih luas bagi praktik usaha yang inklusif.

Melalui Jatim Fest 2026, kesempatan tersebut kembali terbuka. Bagi Athaya Arts, pameran bukan hanya ruang untuk menjual produk, tetapi juga kesempatan memperkenalkan gagasan bahwa kreativitas, inklusivitas, dan keberlanjutan dapat berjalan bersama dalam sebuah usaha.

Selain Athaya Arts, Holding BUMN Danareksa juga menghadirkan sejumlah UMKM lain dalam booth di Jatim Fest 2026, termasuk Nikita Etnik dari PT SIER, Kang Nabil dari PT Jakarta Industrial Estate Pulogadung (JIEP), serta Kirana Khimar dari PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN).

UMKM Nikita Etnik milik Feni Permonowati. UMKM yang telah menjalankan usaha sejak 2015 tersebut menghadirkan berbagai aksesori handmade berbahan batu alam dan tembaga bakar.

“Produk saya aksesoris handmade semuanya. Basic-nya semua dari batu dan tembaga, tembaga bakar. Karena batunya batu asli, biasanya satu koleksi hanya satu karena memang batunya batu alam, jadi tidak ada kembarnya dan terkesan eksklusif,” ujar Feni.

Feni mengaku antusias ketika mendapatkan kesempatan untuk mengikuti Jatim Fest 2026 bersama PT SIER. Ia menyebut kesempatan tersebut merupakan pengalaman pertamanya mengikuti pameran bersama PT SIER sekaligus menjadi ruang untuk memperkenalkan produk dan membuka peluang kolaborasi dengan UMKM lainnya.

Editor : Arif Ardliyanto

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network