SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Generasi Z (Gen Z) kerap mendapat stigma sebagai generasi stroberi yang dianggap mudah rapuh saat menghadapi tekanan. Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.
Gen Z memiliki potensi dan daya tahan untuk berkembang menjadi pemimpin masa depan. Syaratnya, mampu membangun karakter dan beradaptasi dengan tuntutan dunia kerja.
Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Antonius Widodo Mulyono menegaskan bahwa generasi muda tidak seharusnya terjebak dalam stereotip yang berkembang di media sosial. “Kami sudah membuktikan lewat program Gen Z Berbakti, mereka adalah anak-anak yang tangguh (tough)," katanya saat mengisi kuliah umum BCA Berbagi Ilmu di Gedung ASEEC, Kampus B Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, Jumat (9/10/2026).
Di hadapan ratusan mahasiswa, ia menyebut pengalaman melalui program Gen Z Berbakti menunjukkan bahwa anak muda memiliki ketangguhan untuk menghadapi tantangan.
Menurutnya, kemampuan bertahan dan berkembang di dunia kerja tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan intelektual atau prestasi akademik.
“Generasi muda juga perlu memiliki sikap yang baik, kecerdasan emosional, integritas, serta kemampuan membangun hubungan dengan orang lain,” terangnya.
Widodo membagikan pengalamannya meniti karier hingga menjadi salah satu pimpinan di industri perbankan nasional. Ia mengungkapkan bahwa indeks prestasi kumulatif (IPK) yang diraihnya semasa kuliah berada di bawah angka 3.
Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa nilai akademik bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan seseorang dalam membangun karier. Menurutnya, kecerdasan intelektual merupakan fondasi awal, tetapi perlu diimbangi dengan karakter dan kemampuan berinteraksi.
"Pintar itu satu hal, tapi beyond itu harus attitude. Bagaimana kita menempatkan diri, berelasi dengan orang lain, dan tidak merasa paling pintar sendiri. Selain attitude, yang sangat krusial jika ingin maju adalah networking," ungkapnya.
Selain karakter dan jaringan profesional, Widodo menyoroti kesenjangan antara pembelajaran di perguruan tinggi dan kebutuhan di lingkungan kerja. Dunia akademik melatih mahasiswa berpikir secara komprehensif, terstruktur, dan analitis.
“Sementara itu, dunia kerja menuntut ketelitian, integritas, pemahaman terhadap aturan, serta kemampuan menyelesaikan persoalan secara langsung.
Untuk menjembatani kesenjangan tersebut, keterlibatan mahasiswa dalam program magang dinilai penting. Melalui pengalaman kerja secara langsung, mahasiswa dapat memahami ritme pekerjaan, tanggung jawab profesional, dan standar yang diterapkan industri sebelum menyelesaikan pendidikan.
"Kerja di bank itu tidak selalu rumit. Seorang teller atau customer service, asal teliti, ramah, dan paham aturan, itu sudah cukup. Namun, di dunia kerja riil yang dihadapi setiap hari adalah integritas. Lewat magang, mahasiswa bisa merasakan langsung irama kerja praktis sebelum lulus," tambahnya.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
