SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Indonesia masih membutuhkan lebih banyak wirausaha untuk memperkuat perekonomian nasional.
Jumlah entrepreneur yang diperkirakan baru sekitar 3 persen dari total populasi dinilai menjadi tantangan tersendiri. Terutama dalam mendorong generasi muda agar tidak hanya berorientasi mencari pekerjaan, tapi juga mampu menciptakan lapangan kerja.
Wakil Rektor IV Bidang Riset, Inovasi, Kerja Sama, dan Kealumnian Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Agus Mohammad Hatta, menilai pengembangan kewirausahaan di lingkungan perguruan tinggi perlu terus diperkuat.
Kompetisi startup menjadi salah satu cara untuk menumbuhkan minat sekaligus membentuk mentalitas entrepreneur di kalangan mahasiswa.
Menurut Agus, jumlah entrepreneur menjadi salah satu indikator yang membedakan negara maju dan negara berkembang. Ia menyebut persentase wirausaha di Indonesia saat ini berada di kisaran 3 persen. Sedangkan Singapura dan Amerika Serikat mencapai sekitar 6 persen dari total populasi.
“Kondisi tersebut menunjukkan masih terbukanya ruang untuk meningkatkan jumlah pengusaha di Indonesia, termasuk melalui kontribusi perguruan tinggi dalam mencetak lulusan yang berani membangun usaha,” katanya saat menghadiri kegiatan startup competition dalam rangkaian PLN Innovation and Competition in Electricity (PLN ICE) 2026 di Hotel Santika, Surabaya, Minggu (8/11/2026).
Agus mengungkapkan, persentase alumni ITS yang memilih menjadi entrepreneur juga menunjukkan peningkatan. Sekitar lima tahun sebelum pandemi, jumlah alumni ITS yang berwirausaha berdasarkan penelusuran alumni atau tracer study masih berada di kisaran 2 persen. Dalam beberapa tahun terakhir, angkanya meningkat menjadi sekitar 3 persen.
Meski mengalami kenaikan, angka tersebut dinilai masih perlu ditingkatkan. Kampus diharapkan tidak hanya menghasilkan lulusan yang siap memasuki dunia kerja, tetapi juga melahirkan pengusaha baru yang mampu mengembangkan bisnis dan membuka kesempatan kerja.
“Negara maju memiliki jumlah wirausaha, jumlah entrepreneur yang jauh lebih banyak daripada negara berkembang. Indonesia hari ini memiliki jumlah entrepreneur kurang lebih 3 persen. Bandingkan dengan Singapura dan Amerika yang sekitar 6 persen dari total populasinya,” ujar Agus.
Ia menilai kompetisi startup memiliki peran penting untuk menemukan bibit-bibit pengusaha muda. Namun, perjalanan membangun perusahaan rintisan tidak bisa dilakukan secara instan.
Ada startup yang tumbuh secara organik dengan mengandalkan kemampuan bisnisnya sendiri, sementara lainnya membutuhkan pendanaan dan melewati tahapan pengembangan yang panjang.
Agus juga mengingatkan peserta agar tidak menjadikan kompetisi sekadar ajang mengumpulkan portofolio untuk melamar pekerjaan. Pengalaman mengikuti kompetisi memang dapat menjadi nilai tambah, tetapi peluang untuk benar-benar membangun usaha perlu dimanfaatkan.
Menurutnya, kewirausahaan bukan hanya soal keterampilan teknis, melainkan juga pola pikir dan mentalitas. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki keberanian untuk mengembangkan ide menjadi bisnis yang berkelanjutan.
“Bercita-citalah yang setinggi mungkin. Jangan sekadar ikut kompetisi, kemudian kalau sudah kompetisi hanya menjadikannya portofolio agar mudah mendapatkan pekerjaan,” tegasnya.
Selain keterampilan dan pola pikir, Agus menekankan pentingnya membangun sikap serta kepercayaan atau trust. Kedua hal tersebut menjadi modal penting bagi startup untuk mendapatkan kepercayaan mitra, investor, maupun calon pengguna produk.
Ia berharap kompetisi seperti PLN ICE dapat menjadi ruang bagi mahasiswa dan dosen muda untuk mengembangkan inovasi sekaligus memperkuat ekosistem kewirausahaan di perguruan tinggi.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
