SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Edukasi kesehatan gigi dan mulut membutuhkan pendekatan khusus bagi anak-anak dan individu berkebutuhan khusus.
Pengulangan materi serta pendampingan menjadi bagian penting agar mereka dapat memahami dan membiasakan perawatan gigi dalam kehidupan sehari-hari.
Hal tersebut menjadi perhatian Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Ciputra Surabaya (FKG UC) melalui kegiatan pemeriksaan dan penyuluhan kesehatan bagi komunitas inklusif di Yayasan Aora Wistara, Surabaya.
Sebanyak 100 peserta beserta pendampingnya terlibat dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang menggabungkan pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut dengan edukasi kesehatan lainnya.
Koordinator Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat FKG UC, drg. Yessy Andriani F., M.Si., S.H., mengatakan kegiatan tersebut bertujuan memperluas akses pelayanan kesehatan bagi berbagai kelompok masyarakat, termasuk individu dengan kebutuhan khusus.
“Harapannya, Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Gigi bisa menyasar semua lapisan masyarakat. Jadi, tidak hanya masyarakat di sekitar Universitas Ciputra, tetapi juga komunitas yang memiliki kebutuhan terhadap akses kesehatan umum dan kesehatan gigi dan mulut,” ujar Yessy, Sabtu (10/10/2026).
Menurut dia, kegiatan tersebut melibatkan peserta dengan beragam kebutuhan, termasuk individu dengan autisme dan penyandang disabilitas lainnya. “Karena itu, pendekatan pemeriksaan dan edukasi perlu disesuaikan agar informasi kesehatan dapat diterima dengan lebih baik,” katanya.
Program pengabdian masyarakat tersebut digagas oleh Yessy dengan melibatkan Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra Surabaya (FK UC) serta tenaga medis dari sejumlah perguruan tinggi di Surabaya.
Kolaborasi tersebut mencakup dokter gigi spesialis dari FKG Universitas Negeri Surabaya (Unesa), FKG Universitas Hang Tuah (UHT), dan Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (FK UWKS).
Dalam kegiatan tersebut, drg. Evy A. Syagran, Sp.KGA., M.M. dari FKG Unesa memberikan edukasi kesehatan gigi dan mulut. Dr. Wahyuni D. Parmasari, drg., Sp.Ort., M.Si. dari FK UWKS menyampaikan materi dari perspektif ortodonti, sedangkan drg. Dwi Setianingtyas, Sp.PM(K) dari FKG UHT memberikan edukasi terkait penyakit mulut.
Selain pemeriksaan dan penyuluhan gigi, peserta juga mendapatkan pemeriksaan telinga dari tim FK UC serta edukasi mengenai pencegahan perundungan (bullying).
Yessy mengatakan kegiatan serupa baru mulai dijalankan sekitar satu bulan sebelum wawancara dan direncanakan berlanjut secara berkala.
“Ke depannya akan berlanjut terus dan berkelanjutan. Setiap enam bulan sekali kami berusaha mengadakan pemeriksaan kesehatan dan kesehatan gigi untuk komunitas inklusif,” ujarnya.
Untuk tahap awal, program tersebut menyasar komunitas di wilayah Surabaya Timur. Pengembangannya ke wilayah lain juga terbuka sesuai kebutuhan dan peluang kolaborasi yang tersedia.
Pengelola Sekolah Inklusif Aora, Yusis Ernani Novalita, menilai edukasi kesehatan gigi penting diberikan secara berulang kepada anak-anak berkebutuhan khusus. Sebagian peserta masih membutuhkan bantuan untuk memahami dan menerapkan kebiasaan perawatan gigi secara tepat.
“Anak-anak berkebutuhan khusus ini tidak bisa diajarkan hanya sekali dua kali. Jadi, ini sangat penting supaya mereka bisa mengingat bagaimana merawat gigi yang benar,” kata Yusis.
Ia menjelaskan, peserta di Aora memiliki beragam kondisi, di antaranya Down syndrome, tunarungu, slow learner, dan ADHD. Perbedaan kebutuhan tersebut membuat proses edukasi perlu dilakukan dengan metode yang sesuai dengan kemampuan masing-masing peserta.
Menurut Yusis, keterlibatan tenaga profesional membantu memberikan pemahaman yang lebih tepat mengenai cara menjaga kesehatan gigi dan mulut. “Edukasi tersebut diharapkan dapat mendukung peserta membangun kebiasaan merawat gigi dengan lebih baik,” imbuhnya.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
