Dia menjelaskan, infeksi pada bayi berusia sangat muda perlu diwaspadai karena kondisi kesehatan mereka dapat memburuk dalam waktu relatif cepat. Salah satu dampak yang mungkin terjadi adalah diare berat yang berujung pada dehidrasi.
Selain ancaman infeksi, memberikan makanan sebelum bayi siap secara perkembangan juga berpotensi menimbulkan tersedak atau aspirasi. Kondisi ini terjadi ketika makanan atau cairan masuk ke saluran pernapasan, bukan ke saluran pencernaan.
Risiko tersebut menjadi alasan penting bagi orang tua untuk tidak mencoba memberikan makanan tambahan kepada bayi hanya berdasarkan kebiasaan keluarga atau saran yang belum teruji secara medis.
Mahmud menekankan bahwa kebutuhan nutrisi bayi harus disesuaikan dengan tahapan pertumbuhannya. Selama enam bulan pertama, ASI eksklusif menjadi rekomendasi utama, sedangkan makanan pendamping ASI (MPASI) diberikan ketika bayi telah mencapai usia yang dianjurkan dan menunjukkan kesiapan untuk menerima makanan.
Pemberian makanan terlalu dini tidak otomatis membuat bayi memperoleh tambahan gizi yang dibutuhkan. Sebaliknya, praktik tersebut justru dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan apabila sistem pencernaan dan kemampuan menelan bayi belum siap.
Orang tua juga perlu memahami bahwa makanan yang dianggap bergizi bagi anak yang lebih besar belum tentu aman diberikan kepada bayi baru lahir. Usia, tekstur makanan, cara pengolahan, serta kondisi kesehatan bayi menjadi faktor penting yang harus diperhatikan.
“Akibatnya bisa berupa tersedak atau aspirasi, diare berat, dehidrasi, hingga perburukan kondisi. Pada bayi sekecil ini, penurunan kondisi kesehatan bisa berlangsung sangat cepat,” tutupnya.
Melalui penjelasan tersebut, Mahmud mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam merawat bayi baru lahir. Orang tua diharapkan mengutamakan ASI eksklusif, menghindari pemberian makanan yang belum sesuai usia, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila memiliki pertanyaan mengenai kebutuhan nutrisi bayi.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
