SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Pemberian telur mentah kepada bayi yang baru berusia 28 hari berpotensi memicu infeksi serius. Di usia yang masih sangat dini, sistem kekebalan tubuh dan saluran pencernaan bayi belum berkembang sempurna sehingga lebih rentan terhadap paparan bakteri berbahaya.
Dosen Departemen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair), Mahmud Aditya Rifqi, S.Gz., M.Si., Ph.D., mengingatkan orang tua agar tidak memberikan makanan maupun minuman selain air susu ibu (ASI) kepada bayi berusia di bawah enam bulan, kecuali terdapat indikasi medis berdasarkan anjuran tenaga kesehatan.
“Bayi usia 28 hari sampai enam bulan tidak memerlukan makanan atau minuman apa pun selain ASI, bahkan air putih sekalipun,” kata Mahmud, Senin (12/10/2026).
Dia menegaskan, penyebab pasti suatu kejadian yang melibatkan bayi tetap harus mengacu pada hasil pemeriksaan dan investigasi pihak rumah sakit. Namun, dari sisi gizi, pemberian ASI eksklusif merupakan langkah penting untuk memenuhi kebutuhan nutrisi sekaligus mendukung perlindungan tubuh bayi.
ASI mengandung berbagai zat gizi dan antibodi yang membantu menunjang pertumbuhan serta perkembangan sistem kekebalan tubuh. Karena itu, penambahan makanan seperti telur, madu, pisang, atau bubur pada bayi yang belum berusia enam bulan tidak dianjurkan tanpa alasan medis.
Mahmud secara khusus menyoroti risiko telur mentah yang dapat terkontaminasi bakteri Salmonella. Bakteri tersebut bisa menyebabkan infeksi dengan gejala seperti diare, demam, kram perut, hingga gangguan kesehatan yang lebih berat.
Risiko ini menjadi perhatian serius ketika paparan terjadi pada bayi baru lahir atau neonatus. Pada fase tersebut, sistem kekebalan tubuh belum matang, sementara ekosistem mikroorganisme baik di dalam usus masih berkembang.
Kondisi itu membuat kemampuan tubuh bayi dalam menghadapi mikroorganisme penyebab penyakit belum seoptimal orang dewasa.
“Telur mentah berisiko membawa bakteri Salmonella, mikroorganisme patogen yang dapat menimbulkan infeksi dan masalah kesehatan. Sementara, usus anak atau neonatus belum siap menghadapinya karena mikrobiota usus belum terbentuk dan sistem imun masih belum matang,” ujarnya.
Dia menjelaskan, infeksi pada bayi berusia sangat muda perlu diwaspadai karena kondisi kesehatan mereka dapat memburuk dalam waktu relatif cepat. Salah satu dampak yang mungkin terjadi adalah diare berat yang berujung pada dehidrasi.
Selain ancaman infeksi, memberikan makanan sebelum bayi siap secara perkembangan juga berpotensi menimbulkan tersedak atau aspirasi. Kondisi ini terjadi ketika makanan atau cairan masuk ke saluran pernapasan, bukan ke saluran pencernaan.
Risiko tersebut menjadi alasan penting bagi orang tua untuk tidak mencoba memberikan makanan tambahan kepada bayi hanya berdasarkan kebiasaan keluarga atau saran yang belum teruji secara medis.
Mahmud menekankan bahwa kebutuhan nutrisi bayi harus disesuaikan dengan tahapan pertumbuhannya. Selama enam bulan pertama, ASI eksklusif menjadi rekomendasi utama, sedangkan makanan pendamping ASI (MPASI) diberikan ketika bayi telah mencapai usia yang dianjurkan dan menunjukkan kesiapan untuk menerima makanan.
Pemberian makanan terlalu dini tidak otomatis membuat bayi memperoleh tambahan gizi yang dibutuhkan. Sebaliknya, praktik tersebut justru dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan apabila sistem pencernaan dan kemampuan menelan bayi belum siap.
Orang tua juga perlu memahami bahwa makanan yang dianggap bergizi bagi anak yang lebih besar belum tentu aman diberikan kepada bayi baru lahir. Usia, tekstur makanan, cara pengolahan, serta kondisi kesehatan bayi menjadi faktor penting yang harus diperhatikan.
“Akibatnya bisa berupa tersedak atau aspirasi, diare berat, dehidrasi, hingga perburukan kondisi. Pada bayi sekecil ini, penurunan kondisi kesehatan bisa berlangsung sangat cepat,” tutupnya.
Melalui penjelasan tersebut, Mahmud mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam merawat bayi baru lahir. Orang tua diharapkan mengutamakan ASI eksklusif, menghindari pemberian makanan yang belum sesuai usia, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila memiliki pertanyaan mengenai kebutuhan nutrisi bayi.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
