SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Indonesia memiliki potensi energi panas bumi atau geothermal mencapai 23,2 gigawatt (GW). Namun, kapasitas yang telah dimanfaatkan untuk pembangkit listrik baru sekitar 2,78 GW.
Pakar hidrogeologi Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Lambok M. Hutasoit, mengatakan Indonesia memiliki sumber daya panas bumi yang besar karena berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik. Potensi tersebut tersebar di berbagai wilayah, termasuk Jawa Barat yang menjadi salah satu daerah dengan sumber daya panas bumi melimpah.
“Provinsi-provinsi lain juga memiliki potensi panas bumi. Jadi, memang masih sangat banyak yang bisa dikembangkan,” ujar Lambok, Sabtu (17/10/2026).
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang dikutip dalam bahan pemberitaan, kapasitas panas bumi yang telah dimanfaatkan untuk pembangkit listrik baru sekitar 2,78 GW dari potensi nasional 23,2 GW. Artinya, kapasitas terpasang tersebut setara sekitar 12 persen dari potensi yang ada.
Menurut Lambok, besarnya potensi tersebut perlu diimbangi dengan pemahaman masyarakat mengenai karakteristik dan keamanan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP).
Salah satu persoalan yang perlu dijelaskan kepada masyarakat adalah kekhawatiran mengenai kemungkinan pemanfaatan panas bumi memengaruhi ketersediaan air tanah untuk kebutuhan sehari-hari.
Lambok menerangkan, reservoir panas bumi yang dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik umumnya berada pada lapisan batuan berbeda dengan akuifer dangkal yang menjadi sumber air tanah masyarakat.
“Reservoir panas bumi dengan akuifer air tanah itu kebanyakan tidak berhubungan secara langsung. Jadi, tidak bisa begitu saja dikatakan bahwa ketika reservoir panas bumi dimanfaatkan, air tanah di atasnya otomatis akan ikut tersedot,” jelasnya.
Meski demikian, ia menegaskan hubungan antara reservoir panas bumi dan akuifer tetap perlu diteliti berdasarkan kondisi geologi setiap wilayah. Sebab, dalam kondisi tertentu, kedua sistem tersebut dapat saling terhubung.
Karakteristik lapisan batuan di bawah permukaan bumi menjadi salah satu faktor penting dalam memahami pergerakan air dan fluida panas bumi. Sebagian lapisan batuan dapat meloloskan air, sedangkan lapisan lainnya berfungsi menghambat pergerakan fluida
“Selain memperhatikan kondisi air tanah, pengembangan panas bumi juga membutuhkan pengelolaan reservoir agar produksi energi dapat berlangsung secara berkelanjutan,” ujarnya.
Lambok menjelaskan, salah satu upaya yang dilakukan adalah reinjeksi, yakni mengembalikan fluida sisa produksi ke reservoir. Langkah ini bertujuan membantu menjaga tekanan reservoir agar tetap mendukung proses produksi.
“Metode itu sangat membantu. Justru itu memang disarankan dan harus dilakukan oleh perusahaan-perusahaan pengembang panas bumi. Tujuannya untuk menjaga tekanan reservoir. Istilahnya pressure maintenance,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya perlindungan kawasan resapan air. Berdasarkan penelitiannya di Wayang Windu, Jawa Barat, analisis isotop air dapat digunakan untuk mengidentifikasi daerah resapan yang berperan dalam sistem hidrogeologi kawasan panas bumi.
Menurut dia, pemahaman terhadap sistem air tanah dan karakteristik batuan menjadi bagian penting dalam pengelolaan panas bumi.
“Namun, pengembangan energi perlu disertai kajian teknis dan perlindungan lingkungan yang sesuai dengan kondisi setempat,” jelasnya.
Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam pemanfaatan panas bumi untuk pembangkit listrik. Salah satunya adalah PLTP Kamojang di Jawa Barat yang telah beroperasi secara komersial sejak 1983.
Kawasan tersebut memiliki lima unit pembangkit dengan total kapasitas terpasang 235 megawatt (MW). Pengalaman Kamojang menjadi salah satu gambaran pemanfaatan panas bumi dalam jangka panjang, termasuk pengelolaan fasilitas produksi dan hubungannya dengan masyarakat sekitar.
Staf Khusus Wakil Presiden sekaligus Komisaris Pertamina Patra Niaga, Tina Talisa, yang mengunjungi kawasan tersebut, menyoroti pentingnya pengembangan energi yang memperhatikan masyarakat dan lingkungan.
“Kamojang bukan hanya cerita tentang pembangkit listrik. Selama puluhan tahun, pengembangan panas bumi di sini tumbuh berdampingan dengan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya,” tulis Tina melalui akun Instagram pribadinya, @tina_talisa.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
