SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengubah lanskap dunia kerja.
Di tengah otomatisasi dan transformasi digital, keterampilan manusia seperti berpikir kritis, kemampuan beradaptasi, dan empati sosial tetap menjadi bekal penting untuk menghadapi perubahan industri.
Isu tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Konferensi WorldSkills 2026 yang berlangsung di Shanghai, Tiongkok, bersamaan dengan Kompetisi WorldSkills ke-48. Forum ini mempertemukan para ahli pendidikan kejuruan, pelaku industri, dan perwakilan organisasi internasional untuk membahas masa depan keterampilan dan tenaga kerja.
Presiden WorldSkills International, Francis Hourant, menilai Konferensi WorldSkills 2026 menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai perspektif dan menghasilkan pembahasan yang bermakna. “Forum ini juga menyoroti dampak AI terhadap pasar tenaga kerja masa depan,” katanya, Senin (19/10/2026).
Diskusi mengenai AI menegaskan pentingnya menyiapkan generasi muda agar menguasai teknologi dan keterampilan manusia yang mendukung kemampuan teknis mereka.
Mantan peserta WorldSkills dari Uni Emirat Arab, Narmeen Almarzooqi, yang berbicara dalam diskusi panel tersebut, menekankan bahwa AI tidak dapat menggantikan keterampilan lunak manusia, seperti berpikir kritis, kemampuan beradaptasi, dan empati sosial.
Keterampilan tersebut menjadi penting ketika pekerja harus menghadapi perubahan pola kerja, menyelesaikan persoalan yang kompleks, serta berkolaborasi dengan orang lain di lingkungan yang terus berkembang.
Tantangan perubahan dunia kerja juga menjadi perhatian dalam Kompetisi WorldSkills ke-48 di Shanghai. Ajang ini diikuti 1.385 peserta dari 68 negara dengan mempertandingkan 64 kategori keterampilan. Tujuh kategori baru diperkenalkan, sementara kategori lainnya diperbarui untuk menyesuaikan perkembangan industri.
Kompetisi tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan dan pelatihan kejuruan perlu terus beradaptasi dengan perubahan teknologi dan kebutuhan pasar kerja. Penguasaan keterampilan teknis tetap penting, tetapi perlu disertai kemampuan untuk belajar, beradaptasi, dan bekerja sama.
WorldSkills 2026 juga menghadirkan berbagai kegiatan pendukung, termasuk Konferensi WorldSkills, WorldSkills Shanghai 2026 Expo, dan program “Satu Sekolah Satu Anggota”. Berbagai kegiatan tersebut menjadi sarana pertukaran pengetahuan dan pengalaman dalam pengembangan pendidikan kejuruan.
Francis Hourant berharap pengalaman yang diperoleh dari ajang tersebut dapat membantu meningkatkan pendidikan kejuruan di berbagai negara serta menginspirasi lebih banyak anak muda untuk menekuni karier berbasis keterampilan.
“Kompetisi WorldSkills juga menunjukkan bagaimana penguasaan keterampilan dapat membuka peluang bagi generasi muda untuk membangun karier dan bersaing di tingkat internasional,” jelasnya.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
