Kurangi Hambatan Komunikasi, Kampus Merah Putih di Surabaya Siapkan Layanan Ramah Penyandang Tuli

Arif Ardliyanto
Untag Surabaya menggelar pelatihan bahasa isyarat bagi tenaga kependidikan untuk meningkatkan aksesibilitas layanan dan mewujudkan kampus inklusif. Foto iNewsSurabaya.id/tangkap layar

Wakil Rektor I Untag Surabaya, Dr. Rr. Amanda Pasca Rini, S.Psi., M.Si., Psikolog, menegaskan bahwa upaya menghadirkan kampus ramah disabilitas dilakukan secara bertahap melalui berbagai program yang mendukung kesetaraan akses pendidikan.

“Kegiatan ini merupakan salah satu strategi untuk menguatkan komitmen Untag Surabaya dalam memberikan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas agar dapat memperoleh pendidikan yang setara, sekaligus membangun budaya inklusi di lingkungan kampus,” tuturnya.

Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan dengan dasar-dasar Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI). Materi yang diberikan mencakup pengenalan abjad, angka, nama hari, hingga bulan sebagai bekal awal untuk membangun komunikasi dengan penyandang tuli.

Proses pembelajaran berlangsung secara interaktif melalui praktik langsung dan permainan edukatif. Metode ini digunakan untuk membantu peserta mengenali gerakan isyarat sekaligus memahami penerapannya dalam situasi komunikasi sehari-hari.

Wildiyah Zulfa, S.Pd., guru di SLB Bakti Asih yang menjadi salah satu narasumber, menjelaskan bahwa bahasa isyarat tidak sebatas gerakan tangan. Komunikasi juga melibatkan persepsi visual, ekspresi, serta pemanfaatan ruang untuk menyampaikan pesan secara tepat.

“Bahasa isyarat memiliki struktur tata bahasa dan ekspresi ruang tersendiri. Di dalamnya juga terdapat nilai kebersamaan dan solidaritas sosial yang erat. Hal inilah yang dibutuhkan untuk membangun empati dan mewujudkan pendidikan inklusif,” jelasnya.

Selain Wildiyah, pelatihan ini menghadirkan Yayinda Andin Kharisma, S.Pd., dan Anggi Salma Wardah, S.Pd., sebagai narasumber.

Melalui program tersebut, Untag Surabaya berupaya memperkuat budaya inklusi dengan meningkatkan kesiapan tenaga kependidikan dalam melayani penyandang disabilitas. Perluasan pelatihan kepada dosen dan mahasiswa juga diharapkan dapat memperluas pemahaman tentang pentingnya komunikasi yang aksesibel di lingkungan akademik.

Dengan demikian, upaya menciptakan kampus inklusif tidak berhenti pada penyediaan fasilitas, tetapi turut menyentuh pola komunikasi dan interaksi sehari-hari. Lingkungan pendidikan yang semakin terbuka diharapkan memberi ruang bagi setiap individu untuk mengakses layanan serta berpartisipasi dalam kegiatan akademik secara setara.

 

Editor : Arif Ardliyanto

Sebelumnya

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network