SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Kinerja perdagangan Jawa Timur (Jatim) menghadapi tekanan sepanjang Januari–September 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Jatim mengalami defisit USD3,63 miliar, seiring nilai impor yang meningkat tajam ketika ekspor justru mengalami penurunan.
Nilai impor Jatim selama sembilan bulan pertama 2026 mencapai USD24,89 miliar. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan nilai ekspor yang sebesar USD21,26 miliar.
Kondisi tersebut menunjukkan tekanan pada kinerja perdagangan luar negeri Jatim. Peningkatan impor belum diimbangi penguatan ekspor, sehingga neraca perdagangan mengalami defisit miliaran dolar AS.
BPS mencatat nilai ekspor Jatim Januari–September 2026 turun 7,25 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dari USD22,92 miliar menjadi USD21,26 miliar.
“Penurunan terjadi pada ekspor migas maupun nonmigas. Ekspor nonmigas turun 6,26 persen dari USD22,46 miliar menjadi USD21,06 miliar,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS Jatim Ir. Herum Fajarwati dikutip dari rilis BPS Jatim, Kamis (5/11/2026).
Sementara itu, ekspor migas mengalami penurunan lebih tajam sebesar 55,17 persen, dari USD461,04 juta menjadi USD206,67 juta. Penurunan tersebut terutama dipicu merosotnya ekspor minyak mentah sebesar 73,85 persen, dari USD417,85 juta menjadi USD109,28 juta.
Di sisi lain, impor Jatim justru meningkat 15,51 persen dibandingkan periode Januari–September 2025, dari USD21,55 miliar menjadi USD24,89 miliar.
Impor nonmigas naik 13,90 persen dari USD17,96 miliar menjadi USD20,45 miliar. Adapun impor migas meningkat 23,59 persen, dari USD3,59 miliar menjadi USD4,44 miliar.
Kenaikan impor migas terutama dipengaruhi melonjaknya impor hasil minyak sebesar 46,99 persen, dari USD2,15 miliar menjadi USD3,15 miliar. Sebaliknya, impor gas dan minyak mentah masing-masing turun 1,17 persen dan 26,83 persen.
Jika ditelusuri berdasarkan sektor, defisit perdagangan Jatim terutama bersumber dari sektor migas. BPS mencatat neraca perdagangan migas mengalami defisit USD4,23 miliar sepanjang Januari–September 2026. Sebaliknya, sektor nonmigas masih mampu mencatat surplus USD602,15 juta.
Surplus nonmigas tersebut belum cukup untuk menutup defisit sektor migas. Akibatnya, secara keseluruhan neraca perdagangan Jatim tetap berada dalam posisi defisit USD3,63 miliar.
Tiongkok menjadi mitra utama perdagangan nonmigas Jatim, baik sebagai negara tujuan ekspor maupun asal impor. Sepanjang Januari–September 2026, ekspor nonmigas Jatim ke Tiongkok mencapai USD3,72 miliar atau 17,67 persen dari total ekspor nonmigas.
Komoditas utama yang dikirim meliputi lemak dan minyak hewani atau nabati senilai USD990,68 juta, tembaga USD852,88 juta, berbagai produk kimia USD333,99 juta, serta bahan kimia organik USD325,05 juta.
Di sisi impor, Tiongkok juga menjadi negara asal barang terbesar dengan kontribusi 40,98 persen terhadap total impor nonmigas Jatim. Nilai impor nonmigas dari negara tersebut mencapai USD8,38 miliar.
Amerika Serikat berada di posisi berikutnya dengan nilai impor USD1,13 miliar atau 5,52 persen, disusul Brasil sebesar USD838,25 juta atau 4,10 persen.
Besarnya perdagangan dengan Tiongkok memperlihatkan posisi penting negara tersebut dalam rantai perdagangan Jatim, baik untuk memenuhi kebutuhan pasar maupun mendukung aktivitas industri.
Di tengah tekanan perdagangan luar negeri, Pemerintah Provinsi Jatim memperkuat perdagangan antardaerah melalui misi dagang dan investasi dengan Sulawesi Selatan (Sulsel).
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa memimpin misi dagang Jatim–Sulsel di Makassar, Rabu (4/11/2026). Berdasarkan rekapitulasi final, kegiatan tersebut mencatat komitmen transaksi sebesar Rp5,69 triliun.
Nilai tersebut terdiri atas penjualan produk Jatim ke Sulawesi Selatan sebesar Rp4,72 triliun dan pembelian produk dari Sulawesi Selatan sebesar Rp976,09 miliar. “Dari jumlah itu Jatim menjual Rp4,717 triliun dan Jatim membeli Rp976 miliar,” kata Khofifah.
Produk peternakan menjadi penyumbang transaksi terbesar dengan nilai Rp4,26 triliun. Komoditas yang diperdagangkan meliputi olahan daging unggas, olahan daging ruminansia, susu, daging, anak ayam, kambing atau domba, hingga pakan ternak.
Selain peternakan, penjualan Jatim ke Sulsel mencakup makanan dan hasil laut beku, aluminium ekstrusi, tepung gaplek, gula cair, material atap bitumen, produk fesyen, beras, gula kristal putih, benih pertanian, cabai, serta pakan ikan dan udang.
Sementara itu, Jatim membeli sejumlah komoditas dari Sulawesi Selatan, antara lain kayu gergajian dan veneer, arang batok kelapa, ikan tuna, rotan, rempah-rempah, mete, serta cengkeh dan gagang cengkeh.
Khofifah menilai Sulawesi Selatan memiliki posisi strategis sebagai hub Indonesia Timur. Melalui kerja sama tersebut, Jatim berupaya memperkuat konektivitas perdagangan antara kawasan Indonesia bagian barat dan timur.
“Artinya kita ingin membangun konektivitas yang lebih produktif antara sisi Indonesia bagian barat dan sisi Indonesia bagian timur. Apa yang kita lakukan hari ini adalah menabuh genderang efektivitas, produktivitas, dan nilai tambah bagi kedua provinsi,” ujarnya.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
