Ekspor Perhiasan Jatim Loyo, Impor Buah dan Pupuk Justru Meroket
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur (Jatim) mencatat neraca perdagangan Jatim selama periode Januari-Mei 2026 mengalami defisit sebesar USD2,80 miliar. Defisit terjadi karena nilai impor masih lebih tinggi dibandingkan nilai ekspor.
Plt Kepala BPS Provinsi Jatim, Ir. Herum Fajarwati, M.M, mengatakan nilai impor Jatim sepanjang Januari-Mei 2026 mencapai USD13,70 miliar, sedangkan nilai ekspor hanya sebesar USD10,91 miliar.
"Defisit neraca perdagangan Jatim pada Januari-Mei 2026 mencapai USD2,80 miliar. Kondisi ini disebabkan nilai impor yang lebih besar dibandingkan nilai ekspor," ujar Herum dalam rilis resmi BPS Jatim, Rabu (1/7/2026).
Menurut Herum, defisit tersebut berasal dari sektor migas maupun nonmigas. Defisit neraca perdagangan migas tercatat sebesar USD2,44 miliar, sementara sektor nonmigas juga mengalami defisit sebesar USD353,38 juta.
Di sisi ekspor, nilai ekspor Jatim selama Januari-Mei 2026 mencapai USD10,91 miliar, atau turun 2,92 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Sementara ekspor nonmigas yang mencapai USD10,75 miliar juga mengalami penurunan sebesar 2,28 persen.
Herum menjelaskan, dari 10 komoditas ekspor nonmigas terbesar, komoditas lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) mencatat kenaikan tertinggi, yakni sebesar USD252,54 juta atau tumbuh 28,70 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sebaliknya, komoditas perhiasan dan permata (HS 71) mengalami penurunan paling signifikan dengan nilai mencapai USD870 juta atau turun 40,80 persen.
"Penurunan ekspor terbesar berasal dari komoditas perhiasan dan permata, sementara peningkatan tertinggi terjadi pada komoditas lemak dan minyak hewani maupun nabati," katanya.
Berdasarkan sektor usaha, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan mencapai USD10,29 miliar, turun 1,08 persen dibandingkan Januari-Mei 2025. Sementara ekspor hasil pertanian turun 23,39 persen, dan ekspor hasil pertambangan serta sektor lainnya turun 21,64 persen.
Dalam hal tujuan ekspor, Tiongkok masih menjadi pasar utama ekspor nonmigas Jatim dengan nilai mencapai USD1,81 miliar atau berkontribusi 16,82 persen terhadap total ekspor nonmigas.
Komoditas utama yang diekspor ke Tiongkok antara lain lemak dan minyak hewani/nabati senilai USD487,53 juta, tembaga USD347,92 juta, berbagai produk kimia USD201,25 juta, serta bahan kimia organik USD182,71 juta.
Selain Tiongkok, Amerika Serikat menjadi tujuan ekspor terbesar kedua dengan nilai ekspor mencapai USD1,58 miliar. Produk utama yang dikirim ke Negeri Paman Sam antara lain ikan, krustasea dan moluska, perabotan dan alat penerangan, produk olahan hasil laut, serta kayu dan barang dari kayu.
Sementara itu, nilai impor Jatim selama Januari-Mei 2026 tercatat USD13,70 miliar, meningkat 14,36 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan impor terjadi baik pada sektor migas maupun nonmigas. Impor nonmigas mencapai USD11,10 miliar atau naik 11,74 persen, sedangkan impor migas mencapai USD2,60 miliar atau melonjak 27,02 persen.
Dari kelompok komoditas, impor buah-buahan menjadi yang mengalami kenaikan terbesar dengan nilai tambahan USD159,45 juta atau naik 34,87 persen. Disusul impor pupuk yang meningkat USD120,16 juta atau tumbuh 27,05 persen.
Menurut golongan penggunaan barang, impor bahan baku dan penolong mendominasi dengan nilai USD10,97 miliar, naik 12,54 persen. Sementara impor barang konsumsi mencapai USD1,53 miliar atau naik 15,58 persen, dan impor barang modal sebesar USD1,20 miliar, meningkat 31,98 persen.
Editor: Arif Ardliyanto