get app
inews
Aa Read Next : Fatayat NU Jawa Timur Didorong Terlibat Atasi Masalah Kurang Gizi, Upaya Turunkan Angka Stunting

Karya Foto Jepretan Penyandang Disabilitas Ini Bikin Takjub

Sabtu, 04 Desember 2021 | 21:43 WIB
header img
Mukidi menjelaskan makna dari karya foto yang dipamerkan, Sabtu (4/12/2021). (Foto: iNewsSurabaya/Ali Masduki)

SURABAYA, iNews.id - Puluhan karya foto berukuran 20 R berjejer rapi menyambut para pelanggan Waroeng Joglo Merah Putih, Surabaya. 

Diawali foto yang mengemas cara mencuci tangan pakai sabun, kemudian foto cek suhu badan hingga cara mengenakan masker yang benar, seolah sang fotografer mengajak para pengunjung warung agar tetap menjaga protokol kesehatan. 

Jika dilihat secara teknis, karya-karya foto tersebut dihasilkan oleh fotografer profesional. Setiap bingkai yang dipajang terlihat begitu rapi dan apik. Membuat setiap mata ingin lebih lama menghayati pesan yang terselip dibalik visual tersebut.

Yah, itulah foto-foto hasil jepretan para fotografer disabilitas Surabaya, yang selama ini tinggal di Liponsos Kalijudan. Meskipun mereka masih remaja, setiap bidikan kameranya berhasil membuat pengunjung takjub.

"Wah foto ini bagus sekali. Karya siapa ya," celetuk Lely.

Untuk mengobati rasa penasaran, Lely akhirnya mencari sang fotografer untuk bertanya lebih dalam. Satu persatu bingkai fotopun dijelaskan oleh Mukidi, salah satu pameris disabilitas. Tentu dengan bahasa Mukidi, yakni bahasa ibu.

Sebanyak 22 karya foto anak-anak disabilitas bertajuk “Cerita di Balik Lensa” yang diselenggarakan Unicef dan Akatara Jurnalis Sahabat Anak (JSA) bersama Disabilitas Berkarya tersebut merupakan kegiatan untuk peringatan Hari Disabilitas Internasional yang diperingati setiap tanggal 3 Desember 2021

Pembina Disabilitas Berkarya, Leo Gemati, menceritakan bahwa karya-karya foto yang dipamerkan merupakan karya dari lima fotografer spesial. Pina, Kiking, Mukidi, Omay dan Jacky, sudah mengenal fotografi sejak tahun 2016 silam. 

"Dimulai dengan coba-coba memotret menggunakan kamera ponsel, ternyata mereka menunjukkan bakat dan kemampuan di bidang fotografi. Dari sana para pembina melihat bahwa anak-anak ini memiliki kemampuan," terangnya. 

Saat ini, selain kamera ponsel, fotografer muda spesial ini juga menggunakan kamera pocket, DSLR serta mirrorless. 

Leo mengakui, mengajari penyandang disabilotas dalam mengoperasikan kamera bukan perkara mudah. 
Terutama dalam berkomunikasi. Hal itu dikarenakan empat dari lima orang anak menderita tuna rungu dan wicara. 

”Mereka nggak bisa mengerti omongan saya. Sedangkan saya tidak bisa bahasa isyarat. Jadi ya agak susah. Tapi akhirnya kami bisa saling paham,”  kata Leo. 

Dengan penuh kesabaran dan senang hati, alhasil karya seni fotografi anak-anak ini sudah mendapat pengakuan. 

Saat workshop Fotografi yang diadakan Unicef tahun 2019 silam, fotografer asal Italia, Giacomo Pirrozi memberikan apresiasi pada karya Kiking dan Mukidi dan menganugerahi mereka gelar the best team. 

"Karya Kiking, yang memotret seorang pedagang di Pasar Keputran terpilih untuk dipamerkan di Gedung Gurzenich, Jerman," ujar Leo. 

CFO Unicef Surabaya, Ermi Ndoen, menegaskan bahwa menjadi Penyandang Disabilitas tidak berarti membuat seseorang berhenti berkarya. 

Itu dibuktikan oleh Pina, Kiking, Mukid, Omay, Jacky. Melalui cerita di balik lensa, mereka membuktikan bahwa disabilitas bisa. 

"Kita semua bisa merasakan apa yang mereka rasakan di masa pandemi,” katanya.

Ermi menilai, melalui karya foto yang dihasilkan kelimam fotografer ini, orang bisa melihat kekhawatiran dan juga optimisme yang terus dibangun selama masa pandemi COVID-19. 

”Mari bersama kita selalu berikan ruang untuk anak-anak disabilitas mereka dengan mendengarkan mereka agar mereka bisa selalu berkarya,” tutur Ermi. 

Ia berharap, karya anak-anak disabilitas ini bisa menjadi pemantik bagi masyarakat dalam menjalani era kebiasaan baru. 

”Setiap anak memiliki karya luar biasa. Mereka menunjukkan bahwa dengan keterbatasannya mereka bisa menampilkan foto-foto luar biasa,” ucapnya. 

Menjaga hak-hak anak disabilitas, lanjutnya, membutuhkan kerja bareng. Tidak bisa hanya dilakukan oleh satu dua pihak saja. ”Kolaborasi menjadi kunci,” pungkas Ermi.

Editor : Ali Masduki

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut