Makna Kemenangan di Hari Lebaran 'Sebuah Renungan'

Setelah menikmati takjil dan menunaikan shalat Maghrib berjamaah, kami duduk melingkar di sekitar meja makan. Dalam suasana yang akrab dan penuh khidmat, saya bersebelahan dengan sang Guru. Saya merasa sedikit sungkan mengambil lauk di hadapannya. Jika bukan karena dorongan teman-teman, saya lebih memilih untuk makan dengan bebas tanpa merasa terbatas.
Kami menikmati hidangan dengan ritme yang perlahan, diselingi obrolan yang mengalir dari hal-hal ringan hingga diskusi mendalam. Seperti biasa, topik pembicaraan bisa berbelok ke mana saja. Kali ini, setelah menyampaikan pendapat mengenai sebuah kajian sejarah, salah seorang di ujung meja berkata, "Sejarah ditulis oleh para pemenang."
Ungkapan itu terdengar familiar bagi semua yang hadir. Namun, respons sang Guru justru mengejutkan. Dengan suara berat dan penuh makna, ia menimpali, "Pemenang itu tergantung definisi. Siapa pemenang dan siapa pecundang? Dunia kita semakin kompleks, sehingga sulit menentukan siapa sebenarnya yang berhak disebut pemenang."
Ia mengulang kalimat itu sekali lagi, "Pemenang itu tergantung definisi."
Saya merenungkan kata-kata tersebut dalam perspektif saya sendiri. Pikiran saya langsung melayang pada kalimat yang sering kita dengar saat Lebaran tiba: "Lebaran sebagai hari kemenangan." Pertanyaannya, siapa sebenarnya pemenang di hari "kemenangan" itu?
Puasa Ramadan sejatinya adalah sebuah pelatihan. Layaknya sebuah kamp latihan sebelum pertandingan sesungguhnya, puasa menggembleng kita agar siap menghadapi kehidupan dengan kualitas diri yang lebih baik. Menjalankan seluruh aspek puasa bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari perjuangan sesungguhnya dalam kehidupan nyata.
Puasa mengajarkan kita arti empati dengan merasakan haus dan lapar, sehingga tumbuh rasa kasih sayang kepada mereka yang kurang beruntung. Inilah esensi dari zakat fitrah, sebagai bentuk kepedulian kepada sesama. Lebih dari itu, puasa juga melatih ketahanan diri, disiplin, dan kontrol terhadap hawa nafsu. Dengan menahan godaan dan mengikuti aturan yang ketat, kita diharapkan menjadi pribadi yang lebih kuat, penuh komitmen, serta memiliki pengendalian diri yang lebih baik.
Namun, apakah kita benar-benar menerapkan hasil latihan ini dalam kehidupan sehari-hari? Ataukah semua kualitas tersebut hilang begitu saja setelah gema takbir berkumandang?
Seharusnya, hasil dari latihan sebulan penuh di bulan Ramadan menjadi bekal dalam kehidupan nyata. Jika kita mampu menerapkan nilai-nilai yang telah dilatih selama puasa—seperti ketahanan diri, kedisiplinan, kesabaran, syukur, dan empati—maka kita bisa menjadi pribadi yang layak disebut sebagai "pemenang" sejati.
Namun, realitanya sering kali berbanding terbalik. Saat Lebaran tiba, banyak dari kita justru larut dalam euforia berlebihan. Perut yang selama sebulan ditempa untuk menahan lapar kini dijejali tanpa batas, seolah-olah tiada hari esok. Lebaran yang seharusnya menjadi momen introspeksi, malah menjadi ajang pamer kemewahan dan kesombongan. Di mana komitmen, pengendalian diri, dan kerendahan hati yang telah dilatih selama Ramadan?
Lebaran sering kali berubah menjadi panggung kepongahan, di mana takbir yang menggema di jalanan bukan lagi ekspresi syukur, melainkan simbol kebanggaan. Kemurnian hati yang seharusnya kita dapatkan dari Ramadan justru luntur dalam lautan syahwat dan hedonisme.
Lalu, masihkah kita layak menyebut diri sebagai "pemenang"?
Refleksi Akhir: Hakikat Kemenangan
Jika kemenangan hanya diukur dari keberhasilan menahan lapar dan haus selama sebulan tanpa perubahan sikap setelahnya, maka makna kemenangan itu perlu dikaji ulang. Pemenang sejati bukanlah mereka yang sekadar menyelesaikan "latihan", melainkan yang mampu menerapkan hasil latihan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Mari bertanya pada diri sendiri: setelah Ramadan berlalu, apakah kita benar-benar menjadi pribadi yang lebih baik? Jika tidak, maka kemenangan yang kita klaim hanyalah fatamorgana.
Penulis:
Prof. Dr. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag. (Ahmad Inung)
Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Kemenag RI
Editor : Arif Ardliyanto