Antrean Truk Mengular hingga Puluhan Kilometer, Penyeberangan Ketapang-Gilimanuk Lumpuh
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Pemerintah Provinsi Jawa Timur mendesak Kementerian Perhubungan segera menambah armada kapal penyeberangan di lintas Ketapang–Gilimanuk. Langkah ini diambil menyusul antrean panjang kendaraan, terutama truk bermuatan berat, yang kian mengular akibat minimnya kapal beroperasi pasca kecelakaan laut.
Kepala Dinas Perhubungan Jawa Timur, Nyono, menyatakan bahwa Gubernur Khofifah Indar Parawansa telah mengirimkan surat resmi kepada Menteri Perhubungan guna menyampaikan kondisi darurat yang terjadi di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi.
“Surat resminya akan dikirimkan hari Senin. Namun, komunikasi awal sudah kami lakukan melalui WhatsApp kepada Dirjen Perhubungan Laut dan Direktur Transportasi ASDP,” ujar Nyono pada Sabtu (26/7/2027).
Penurunan drastis jumlah kapal yang beroperasi terjadi setelah insiden tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya pada 2 Juli 2025. Dari 15 kapal yang sebelumnya melayani jalur Ketapang–Gilimanuk, kini hanya 6 kapal yang mendapat izin operasional.
Pembatasan ini dilakukan oleh otoritas keselamatan pelayaran sebagai bagian dari evaluasi menyeluruh. Dampaknya signifikan: kapal jenis Landing Craft Tank (LCT) yang biasa membawa truk-truk besar kini hanya diperbolehkan mengangkut seperempat kapasitas semula.
“Kapal yang dulunya bisa mengangkut 20 kendaraan, kini hanya bisa membawa 5. Sementara jumlah armada pun tinggal enam. Tentu ini menimbulkan antrean panjang,” jelas Nyono.
Editor : Arif Ardliyanto