Selain itu, dua grup properti besar asal Jepang yang dikaitkan dengan portofolio Vanguard juga dikabarkan sedang menjajaki langkah strategis masuk ke pasar Indonesia melalui DADA. Jika skenario ini terealisasi, arus investasi skala besar diyakini dapat mengubah posisi DADA dalam peta industri properti kawasan.
Beberapa analis bahkan menyebut bahwa valuasi saham DADA masih berada jauh dari puncaknya. Dengan kombinasi antara prospek fundamental, sentimen pasar, dan kemungkinan keterlibatan investor asing, harga saham ini diperkirakan bisa menembus level yang belum pernah tercapai sebelumnya.
“Harga DADA belum menyentuh batas langitnya. Potensi pertumbuhan masih terbuka lebar,” ujar Devlin Gabriel.
Dalam skenario jangka panjang, sejumlah analis menempatkan proyeksi harga saham DADA pada kisaran Rp230.000 per lembar, dengan asumsi realisasi ekspansi dan masuknya dana asing berjalan sesuai harapan.
Lonjakan saham DADA saat ini menandai dinamika menarik dalam pasar modal Indonesia. Meski banyak yang melihatnya sebagai peluang besar, tidak sedikit pula yang mengingatkan pentingnya analisis menyeluruh sebelum mengambil keputusan investasi.
Seiring mendekatnya tanggal penghapusan status FCA, pelaku pasar disarankan tetap mencermati informasi resmi dari BEI dan otoritas pasar modal untuk menghindari keputusan berdasarkan rumor semata.
Editor : Arif Ardliyanto