SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah menjadi sorotan setelah salah satu emiten properti mencetak lonjakan harga yang mengejutkan. Saham PT Diamond Citra Propertindo Tbk (kode: DADA) tercatat mengalami kenaikan tajam sebesar 2.448% dalam waktu hanya tiga bulan, menjadikannya sebagai salah satu saham dengan performa paling impresif tahun ini.
Fenomena ini bukan hanya menarik perhatian pelaku pasar domestik, tetapi juga mengundang analisis mendalam dari berbagai kalangan, termasuk investor ritel. Devlin Gabriel, salah satu investor aktif di pasar modal, mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam membaca tren semacam ini.
“DADA ini seperti mobil balap Formula 1 yang tetap melesat kencang meski rem tangannya belum dilepas,” ujarnya.
Saham DADA saat ini berada dalam pengawasan Papan Pemantauan Khusus (FCA), sebuah status yang membatasi volatilitas harga dan kenaikan harian saham. Namun, dalam situasi terbatas tersebut, DADA tetap berhasil melonjak dari Rp7 menjadi Rp178 hanya dalam 90 hari.
Jika status pemantauan ini benar-benar dicabut pada 10 Oktober seperti yang diprediksi banyak analis, maka potensi reli lanjutan bisa terjadi. Hal ini karena batas auto rejection akan dihapus, memungkinkan pergerakan harga lebih fleksibel serta meningkatkan likuiditas pasar.
Kenaikan drastis saham DADA disebut-sebut bukan hanya dorongan spekulatif, melainkan cerminan dari ekspektasi pasar terhadap potensi fundamental perusahaan. Rumor yang beredar menyebut adanya ketertarikan dari The Vanguard Group, salah satu manajer aset terbesar dunia, terhadap emiten ini.
Selain itu, dua grup properti besar asal Jepang yang dikaitkan dengan portofolio Vanguard juga dikabarkan sedang menjajaki langkah strategis masuk ke pasar Indonesia melalui DADA. Jika skenario ini terealisasi, arus investasi skala besar diyakini dapat mengubah posisi DADA dalam peta industri properti kawasan.
Beberapa analis bahkan menyebut bahwa valuasi saham DADA masih berada jauh dari puncaknya. Dengan kombinasi antara prospek fundamental, sentimen pasar, dan kemungkinan keterlibatan investor asing, harga saham ini diperkirakan bisa menembus level yang belum pernah tercapai sebelumnya.
“Harga DADA belum menyentuh batas langitnya. Potensi pertumbuhan masih terbuka lebar,” ujar Devlin Gabriel.
Dalam skenario jangka panjang, sejumlah analis menempatkan proyeksi harga saham DADA pada kisaran Rp230.000 per lembar, dengan asumsi realisasi ekspansi dan masuknya dana asing berjalan sesuai harapan.
Lonjakan saham DADA saat ini menandai dinamika menarik dalam pasar modal Indonesia. Meski banyak yang melihatnya sebagai peluang besar, tidak sedikit pula yang mengingatkan pentingnya analisis menyeluruh sebelum mengambil keputusan investasi.
Seiring mendekatnya tanggal penghapusan status FCA, pelaku pasar disarankan tetap mencermati informasi resmi dari BEI dan otoritas pasar modal untuk menghindari keputusan berdasarkan rumor semata.
Editor : Arif Ardliyanto