Duka Sumatera Akibat Bencana Alam, Generasi Muda Surabaya Bergerak Aktif Bantu Korban
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Rentetan bencana alam yang melanda Pulau Sumatera sejak akhir Desember 2025 hingga awal Januari 2026 meninggalkan luka mendalam bagi ribuan keluarga. Banjir bandang, tanah longsor, hingga gempa bumi datang silih berganti, memaksa warga meninggalkan rumah, kehilangan mata pencaharian, bahkan merelakan orang-orang tercinta.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, wilayah Sumatera Utara, Sumatera Barat, Aceh, hingga Lampung terdampak cukup parah. Curah hujan ekstrem memicu luapan sungai besar, sementara kontur wilayah yang berbukit memperbesar risiko longsor. Akibatnya, ratusan korban jiwa berjatuhan dan ribuan warga harus bertahan di pengungsian dengan kondisi serba terbatas.
Di Sumatera Utara, banjir merendam ribuan rumah warga di Kabupaten Deli Serdang dan Langkat. Lebih dari 5.000 kepala keluarga terpaksa mengungsi demi keselamatan. Sementara itu, di Sumatera Barat, longsor di kawasan Agam dan Tanah Datar menimbun permukiman warga serta memutus akses jalan, membuat distribusi bantuan tersendat. Kondisi tak kalah memprihatinkan terjadi di Aceh Selatan dan Aceh Tenggara, ketika banjir bandang merusak lahan pertanian yang menjadi tumpuan hidup masyarakat.
Kerusakan infrastruktur memperburuk situasi. Jembatan ambruk, jalan antarwilayah terputus, hingga fasilitas kesehatan mengalami kerusakan berat. Tim SAR dan relawan harus berjuang menembus medan sulit untuk menjangkau wilayah pegunungan dan daerah pedalaman yang terisolasi. Di posko pengungsian, kebutuhan mendesak seperti makanan siap saji, air bersih, selimut, obat-obatan, dan tenda masih sangat dibutuhkan, terutama untuk anak-anak dan lansia yang rentan terhadap cuaca ekstrem.
Pemerintah daerah bersama TNI-Polri, Basarnas, dan relawan kemanusiaan terus mengerahkan upaya evakuasi serta penyaluran bantuan. Namun luasnya wilayah terdampak membuat dukungan dari berbagai elemen masyarakat menjadi sangat penting. Gelombang solidaritas pun mengalir dari berbagai daerah di Indonesia, menunjukkan bahwa duka Sumatera adalah duka bersama.
BNPB memperkirakan proses pemulihan pascabencana akan memakan waktu berbulan-bulan, mengingat kerusakan infrastruktur yang masif. Pemerintah pusat telah menyiapkan anggaran darurat untuk rehabilitasi dan rekonstruksi. Meski demikian, partisipasi publik tetap menjadi kunci untuk mempercepat kebangkitan wilayah terdampak.
Di tengah keprihatinan nasional tersebut, aksi kepedulian juga datang dari kalangan generasi muda. Ali Azhar D, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Ciputra, memilih momen istimewa awal tahun dengan cara berbeda. Pada 1 Januari 2026, ia meluncurkan AAD Today Universal, sebuah agensi Public Relations berbasis digital, sekaligus menyalurkan donasi untuk korban bencana di Sumatera.
“Pada 1 Januari 2026, saya meluncurkan website baru sekaligus meresmikan usaha baru di bidang komunikasi. Sebagai bentuk rasa syukur, kami menyalurkan donasi dengan nominal yang kami rahasiakan kepada saudara-saudara kita di Sumatera yang tengah terdampak bencana,” ujar Ali.
Baginya, memulai usaha tidak semata soal bisnis, tetapi juga tentang empati dan tanggung jawab sosial. Ia berharap bantuan yang disalurkan dapat sedikit meringankan beban warga yang tengah berjuang memenuhi kebutuhan dasar setelah kehilangan banyak hal akibat bencana.
“Dengan adanya donasi ini, kami berharap warga Sumatera dapat terbantu untuk keberlangsungan hidup mereka setelah bencana,” tambahnya.
Editor : Arif Ardliyanto