get app
inews
Aa Text
Read Next : Kisah Mantan Pemain Petrokimia Gresik, Pimpin Pembinaan Usia Dini untuk Cetak Pemain Handal

Liga Progresif Jadi Fondasi Regenerasi Pemain Muda, Begini Respons Askot PSSI Surabaya

Senin, 19 Januari 2026 | 09:25 WIB
header img
Askot PSSI Surabaya mengapresiasi Liga Progresif sebagai ajang strategis pembinaan usia dini demi regenerasi pemain sepak bola berkualitas. (Foto Surabaya.iNews.id/Alup).

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Sorak sorai anak-anak dan pelatih mewarnai penutupan kompetisi pembinaan usia dini Liga Progresif yang berlangsung di Stadion Gelora 10 November Tambaksari, Surabaya. Setelah melalui rangkaian pertandingan yang penuh semangat dan sportivitas, ajang ini resmi berakhir dan meninggalkan harapan besar bagi masa depan sepak bola Kota Pahlawan.

Liga Progresif kembali membuktikan diri sebagai wadah penting pembinaan talenta muda. Bukan sekadar soal menang dan kalah, kompetisi ini menjadi ruang belajar bagi para pemain usia dini untuk mengenal disiplin, kerja sama tim, serta mental bertanding sejak usia belia.

Pada Kelompok Umur (KU) 13, El Faza tampil stabil sejak awal kompetisi hingga memastikan diri sebagai juara pertama. Sementara Haggana harus puas berada di posisi runner-up setelah memberikan perlawanan sengit di sepanjang turnamen.

Berlanjut ke KU-15, atmosfer persaingan tak kalah ketat. Diklat Anfa akhirnya keluar sebagai juara, sedangkan El Faza kembali menunjukkan konsistensi dengan meraih posisi juara kedua.

Sementara itu, di KU-17, dominasi NSS tak terbendung. Permainan solid dan disiplin membawa mereka meraih gelar juara, dengan Gartifa menempati posisi runner-up.

Pembina Liga Progresif, Said Abdullah, menegaskan bahwa kompetisi ini dirancang untuk pembinaan jangka panjang, bukan sekadar mengejar prestasi sesaat.

“Liga Progresif tidak hanya mengejar hasil akhir, tetapi juga membentuk karakter, mental bertanding, serta sportivitas pemain muda sebagai fondasi masa depan sepak bola,” ujarnya.

Dukungan juga datang dari Pemerintah Kota Surabaya. Kabid Disbudpar Kota Surabaya, Wawan, menilai Liga Progresif sejalan dengan program pembinaan olahraga daerah.

“Kegiatan ini sangat positif karena menjadi bagian dari upaya pembinaan olahraga prestasi sejak usia dini. Kami berharap Liga Progresif bisa terus berkelanjutan,” katanya.

Koordinator Liga Progresif, Emil Indra, mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat dalam suksesnya kompetisi, mulai dari pelatih, orang tua, hingga panitia.

“Penutupan di Stadion Gelora 10 November menjadi momen berharga. Antusiasme peserta dan kualitas pertandingan menunjukkan bahwa pembinaan berjalan ke arah yang tepat,” ungkap Emil.

Apresiasi serupa disampaikan Ketua Askot PSSI Surabaya, Rocky Magbol. Ia menilai Liga Progresif memiliki peran strategis dalam regenerasi pemain sepak bola di Surabaya.

“Kompetisi seperti ini sangat dibutuhkan untuk menciptakan regenerasi pemain yang berkelanjutan dan berkualitas,” tegasnya.

Penutupan Liga Progresif tahun ini bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang para pesepak bola muda Surabaya. Dari lapangan Stadion Gelora 10 November, mimpi-mimpi besar mulai ditanamkan—mimpi untuk suatu hari mengharumkan nama Surabaya dan Indonesia di pentas sepak bola nasional.

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut