Emas Melejit Tanpa Rem, Harga Pegadaian Cetak Rekor Baru di Januari 2026
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Akhir Januari 2026 membawa kejutan bagi masyarakat Indonesia, khususnya para pemburu investasi aman. Harga emas di Pegadaian melonjak tajam dan mencetak rekor baru. Jika pada awal Januari harga emas masih berada di kisaran Rp2,3 juta per gram, kini di penghujung bulan nilainya melesat menembus Rp3 juta per gram.
Lonjakan harga emas ini menjadi perbincangan hangat di tengah kondisi ekonomi global yang kian tidak menentu. Ketegangan geopolitik, kebijakan ekonomi Amerika Serikat, hingga tekanan inflasi di berbagai negara dinilai turut mendorong emas kembali menjadi primadona investasi.
Kepala Departemen Pegadaian Area Surabaya 1 Kanwil PT Pegadaian XII, Adi Prasetyo, mengungkapkan bahwa per 28 Januari 2026 harga emas Pegadaian telah mencapai Rp3.024.000 per gram. Dia menilai kenaikan ini sebagai salah satu yang paling signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
“Ini kenaikan yang sangat luar biasa. Harga emas terus bergerak naik dan belum menunjukkan tanda-tanda melambat. Kondisi ini bisa menjadi momentum bagi masyarakat yang ingin berinvestasi,” ujar Adi.
Tren kenaikan harga emas sebenarnya sudah terlihat sejak akhir 2025. Grafik harga terus menanjak dengan jeda yang sangat minim, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap ketidakpastian ekonomi global. Data pasar menunjukkan harga emas dunia sempat menyentuh USD 158 per gram atau setara sekitar Rp2,64 juta per gram, melonjak lebih dari 60 persen dibandingkan periode sebelumnya dan bertahan kuat hingga awal 2026.
Di tengah gejolak tersebut, emas kembali memainkan peran klasiknya sebagai aset “safe haven”. Pengamat Ekonomi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Zulfikri Charis, menilai lonjakan harga emas bukan sekadar fenomena sesaat, melainkan cerminan perubahan strategi investor global.
“Ketika risiko ekonomi meningkat, inflasi masih menekan, dan ketegangan geopolitik belum mereda, investor cenderung mencari instrumen yang paling aman. Emas kembali menegaskan posisinya sebagai aset lindung nilai jangka panjang,” kata Zulfikri.
Ia menjelaskan, kombinasi konflik geopolitik yang berlarut-larut, perlambatan ekonomi di negara-negara besar, serta tekanan inflasi global menjadi faktor utama yang menopang reli harga emas. Dalam situasi penuh ketidakpastian, emas dipandang mampu menjaga nilai kekayaan dari guncangan ekonomi.
Optimisme terhadap pergerakan harga emas juga datang dari lembaga keuangan internasional. Goldman Sachs, salah satu bank investasi terbesar dunia, bahkan merevisi proyeksi harga emas ke level yang lebih tinggi. Menurut Zulfikri, langkah tersebut memiliki landasan fundamental yang kuat.
“Salah satunya terkait ekspektasi kebijakan moneter global. Jika bank sentral Amerika Serikat atau The Fed mulai melonggarkan kebijakan dan menurunkan suku bunga, emas akan semakin menarik karena biaya peluang memegang aset ini menjadi lebih rendah,” jelasnya.
Tak hanya itu, tren bank sentral di berbagai negara yang terus menambah cadangan emas juga dinilai menjadi katalis penting. Langkah diversifikasi cadangan devisa agar tidak terlalu bergantung pada dolar AS mendorong pembelian emas dalam jumlah besar secara berkelanjutan.
“Ini bukan strategi jangka pendek, tapi langkah jangka panjang untuk menjaga stabilitas ekonomi. Selama tren ini berlanjut, harga emas berpotensi tetap kuat,” tambah Zulfikri.
Dampak kenaikan harga emas global pun terasa hingga ke dalam negeri. Di tengah dinamika ekonomi yang cepat berubah, minat masyarakat Indonesia terhadap investasi emas justru semakin menguat. PT Pegadaian mencatat antusiasme masyarakat masih tinggi, menunjukkan bahwa emas tetap menjadi pilihan favorit sebagai instrumen investasi yang dianggap aman dan bernilai di masa depan.
Editor : Arif Ardliyanto