Di Tengah Era Digital, SMK Ketintang Surabaya Tanamkan Nilai Isra Mi’raj pada Generasi Z
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Lapangan SMK Ketintang Surabaya pagi itu terasa berbeda. Sejak matahari belum terlalu tinggi, siswa dan guru sudah berkumpul dengan wajah tenang. Mereka datang bukan sekadar menghadiri acara seremonial, tetapi untuk menengok kembali perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW melalui peringatan Isra Mi’raj, sebuah kisah spiritual yang diharapkan menancap kuat di hati Generasi Z.
Tanpa panggung megah dan tata suara berlebihan, kegiatan dimulai dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an dari anggota ekstrakurikuler Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Suara tahfidz yang mengalun pelan seketika meredam hiruk-pikuk. Lapangan sekolah yang biasanya ramai berubah hening, seolah semua yang hadir diajak berhenti sejenak dari laju dunia.
Tak hanya pembacaan Al-Qur’an, rangkaian acara juga diisi dengan istighosah dan penampilan banjari yang membuat suasana semakin khidmat. Para guru pun turut larut, duduk berdampingan dengan siswa, menegaskan bahwa nilai keimanan bukan sekadar pelajaran di kelas, tetapi pengalaman yang dijalani bersama.
Di tengah derasnya arus digital, sekolah melihat tantangan generasi muda semakin nyata. Bukan hanya soal kecanduan gawai, tetapi juga godaan lain seperti pergaulan bebas, kekerasan, hingga perjudian daring yang kini bisa diakses hanya lewat sentuhan jari. Fenomena itu menjadi alasan SMK Ketintang Surabaya memilih menghadirkan nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW secara konsisten dalam kehidupan sekolah.
Melalui ceramah yang disampaikan, siswa diajak memahami makna Isra Mi’raj, mulai dari perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa, hingga menembus tujuh lapis langit dan menerima perintah salat langsung dari Allah SWT. Kisah tersebut tidak hanya diceritakan sebagai peristiwa sejarah, tetapi sebagai fondasi moral untuk menghadapi tantangan zaman.
“Ceramah ini membahas risiko pergaulan yang tidak terkendali, sekaligus menekankan pentingnya menjaga salat lima waktu,” ujar Nafi’ah, Guru Pendidikan Agama Islam SMK Ketintang Surabaya.
Menurutnya, salat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan penyeimbang batin yang mampu menahan langkah anak muda dari godaan yang datang bertubi-tubi. “Melalui kegiatan Isra Mi’raj ini, semoga nilai-nilai yang disampaikan Allah SWT dapat benar-benar diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dengan menjaga salat lima waktu,” tambahnya.
Bagi generasi yang tumbuh bersama layar dan notifikasi tanpa henti, pesan ini menjadi pengingat penting. Kemajuan teknologi boleh dikejar, tetapi jati diri dan iman tidak boleh tertinggal. Salat hadir sebagai jeda, penanda waktu untuk kembali sadar dan menata arah hidup.
Di balik seragam SMK Ketintang Surabaya, tersimpan harapan besar agar teladan Rasulullah SAW tidak berhenti sebagai cerita, melainkan menjadi sikap nyata. Disiplin, tanggung jawab, serta akhlak yang lurus diharapkan tumbuh, baik di lingkungan sekolah maupun di luar pagar pendidikan.
Peringatan Isra Mi’raj ini pun diharapkan tidak sekadar menjadi agenda tahunan. Lebih dari itu, momen ini menjadi ruang refleksi bagi Generasi Z agar nilai agama tetap melekat di tengah cepatnya perubahan zaman. Teknologi boleh terus melaju, tren silih berganti, namun iman diharapkan tetap menjadi kompas agar setiap langkah tetap berada di jalur yang benar.
Penulis:
Kia, Jurnalis SMK Ketintang Surabaya
Editor : Arif Ardliyanto