Kadin Soroti Peluang Properti Jatim 2026, Rumah Subsidi dan Kos Mahasiswa Masih Diminati
Tak kalah penting, Anindya juga menyoroti peran UMKM Jawa Timur yang mendominasi hampir 99 persen unit usaha. Mulai dari sektor makanan dan minuman, tekstil, alas kaki, hingga perikanan, UMKM dinilai sebagai kekuatan riil ekonomi daerah yang perlu terus diperkuat agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Sementara itu, Ketua Umum Kadin Jawa Timur Adik Dwi Putranto memaparkan arah gerak kepengurusan baru yang telah merumuskan tujuh fokus strategis untuk lima tahun ke depan. Seluruh agenda tersebut diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Timur hingga menyentuh angka 8 persen.
Fokus pertama adalah penguatan investasi melalui penciptaan iklim usaha yang kondusif, kemudahan perizinan, kepastian hukum, serta penyediaan sumber daya manusia yang siap kerja. Fokus kedua menyasar perdagangan, baik domestik maupun internasional.
“Tahun ini kami bersama Pemprov Jawa Timur menyiapkan misi dagang ke sembilan provinsi dan empat negara luar negeri,” ungkap Adik.
Pengembangan sumber daya manusia menjadi fokus ketiga yang dinilai paling krusial. Menurut Adik, kualitas SDM menyumbang sekitar 60 hingga 70 persen terhadap pertumbuhan ekonomi.
“Karena itu pengembangan SDM kami jadikan prioritas utama, apalagi kini sudah terbentuk Tim Koordinasi Vokasi Daerah oleh Gubernur,” tegasnya.
Fokus keempat diarahkan pada adopsi teknologi dan digitalisasi yang kini menjadi kebutuhan mutlak, khususnya bagi pelaku BUMKM agar mampu naik kelas. Fokus kelima menyangkut pengembangan industri hijau dan penciptaan green jobs.
“Kami bersama Kadin Indonesia telah menyiapkan standar kompetensi green soft skills yang akan kami dorong menjadi standar nasional,” tambah Adik.
Adapun fokus keenam dan ketujuh masing-masing menitikberatkan pada penguatan infrastruktur serta pemberdayaan BUMKM sebagai tulang punggung perekonomian Jawa Timur.
Dari sisi pemerintah daerah, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menegaskan pentingnya kesinambungan kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha, terutama di tengah situasi geopolitik global yang tidak menentu.
“Kebersamaan ini sudah terbangun dengan baik dan harus terus kita jaga serta tingkatkan,” ujar Emil.
Ia mengingatkan bahwa konflik global berdampak langsung pada perekonomian daerah, sehingga pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Peran pemerintah, menurutnya, adalah memastikan ekosistem ekonomi berjalan tertib dan berkelanjutan tanpa membebani pelaku usaha.
Emil juga menegaskan posisi strategis Jawa Timur yang menyumbang hampir satu per enam perekonomian nasional serta berperan sebagai gerbang logistik utama menuju kawasan Indonesia timur. Ia pun mengapresiasi peran Kadin Jatim dalam berbagai misi dagang yang berhasil mencatat transaksi hingga ratusan miliar rupiah.
“Saya yakin ada jejak Kadin Jawa Timur di balik kesuksesan tersebut,” ucapnya.
Di sela pelantikan, Wakil Ketua Komite Tetap Usaha Produk Properti Lain Kadin Indonesia sekaligus Wakil Ketua Umum DPP Apersi, Adi Dharma, turut menyoroti dinamika sektor properti Jawa Timur pada 2026. Menurutnya, pelaku usaha harus semakin adaptif membaca peluang pasar.
“Realitanya, sektor rumah subsidi dan beberapa produk properti lain masih memiliki ruang gerak,” jelasnya.
Salah satu peluang yang dinilai menjanjikan adalah pengembangan klaster rumah kos di kota-kota dengan basis mahasiswa kuat seperti Surabaya dan Malang. Konsep ini dinilai tetap diminati karena menawarkan potensi passive income bagi investor.
Selain itu, pasar rumah tapak mewah di pusat kota dengan kisaran harga Rp1 miliar hingga Rp2 miliar juga masih diminati meski dengan luas lahan terbatas.
“Dengan konsep tiga lantai, lokasi strategis, dan status landed house bersertifikat HGB, produk ini kerap lebih menarik dibanding apartemen high rise,” pungkas Adi Dharma.
Editor : Arif Ardliyanto