Hidup di Lereng Gunung, Warga Jatiarjo Pasuruan Dibekali Mitigasi Bencana PLN Indonesia Power
Langkah tersebut mendapat apresiasi dari Dompet Dhuafa Jawa Timur. Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Jawa Timur, Moch Rizzqi Aladib, menilai fokus pada mitigasi masih jarang dilakukan, padahal sangat krusial. “Banyak yang terlihat heroik saat respons bencana, tapi Indonesia Power justru memikirkan mitigasi. Ini keren, karena kesiapsiagaan bisa menyelamatkan banyak nyawa,” ungkapnya.
Ia menambahkan, tanpa pengetahuan dan kesiapan masyarakat, penanganan bencana justru berisiko tinggi dan membutuhkan biaya besar.
Materi penyuluhan disampaikan oleh BPBD Kabupaten Pasuruan, yang menekankan bahwa penanggulangan bencana adalah tanggung jawab bersama. Pranata Pencarian dan Evakuasi BPBD Kabupaten Pasuruan, Imron Rosyadi, mengingatkan warga agar memahami karakter ancaman di lingkungannya. “Di Desa Jatiarjo terdapat empat potensi bencana, yaitu tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan, angin kencang atau puting beliung, serta gempa bumi,” jelasnya.
Tak sekadar teori, kegiatan ini juga dilengkapi simulasi lapangan. Sejumlah warga dilibatkan langsung untuk mempraktikkan komunikasi darurat menggunakan handy talky (HT). Simulasi ini dirancang untuk melatih koordinasi saat situasi genting, agar informasi tidak simpang siur dan kepanikan dapat dihindari.
Melalui simulasi tersebut, warga diajak memahami bahwa komunikasi yang cepat dan tepat menjadi kunci keberhasilan evakuasi dan penyelamatan korban saat bencana terjadi.
Kegiatan ditutup dengan penyerahan peralatan penanggulangan bencana kepada masyarakat. Bantuan ini diharapkan menjadi penopang kesiapsiagaan warga, sekaligus simbol kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat.
Di tengah meningkatnya frekuensi bencana alam di berbagai daerah, penguatan mitigasi berbasis masyarakat seperti yang dilakukan di Desa Jatiarjo dinilai sebagai langkah strategis. Tak hanya menekan risiko korban jiwa dan kerugian, upaya ini juga membangun budaya sadar bencana bagi warga yang hidup di kawasan rawan.
Editor : Arif Ardliyanto