get app
inews
Aa Text
Read Next : Tak Tergantung Cuaca, Alat Pengering Gabah Otomatis Mahasiswa Untag Surabaya Bikin Petani Bahagia

Riset 20 Tahun Kepemimpinan 3 Presiden, Mahasiswa Untag Temukan Hubungan Korupsi dan Kemiskinan

Jum'at, 13 Februari 2026 | 06:53 WIB
header img
Mahasiswa Ekonomi Pembangunan Untag Surabaya meneliti dampak korupsi dan utang luar negeri terhadap kemiskinan 2003–2022. Foto Surabaya.iNews.id/arif

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Di tengah perdebatan publik soal utang negara dan maraknya kasus korupsi, seorang mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya memilih menjawabnya lewat riset ilmiah.

Mahardika Harilinawan, mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan, meneliti secara komprehensif bagaimana korupsi dan utang luar negeri memengaruhi tingkat kemiskinan di Indonesia sepanjang 2003–2022. Rentang waktu itu mencakup tiga era kepemimpinan presiden: Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), hingga Joko Widodo (Jokowi).

Penelitian bertajuk “Pengaruh Korupsi dan Utang Luar Negeri terhadap Kemiskinan di Indonesia Tahun 2003–2022” tersebut lahir dari kegelisahan pribadi Mahardika melihat realitas sosial di lapangan.

“Kemiskinan sering hanya dilihat dari angka statistik. Padahal di banyak daerah, masyarakat masih kesulitan akses pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan yang layak. Itu yang membuat saya ingin menggali lebih dalam,” ujar Mahardika.

Dalam penelitiannya, Mahardika menggunakan data sekunder dari lembaga internasional kredibel. Data kemiskinan dan utang luar negeri diambil dari World Development Indicators (World Bank), sementara tingkat korupsi dianalisis melalui Corruption Perception Index (CPI) yang dirilis Transparency International.

Seluruh data periode 2003–2022 diolah untuk melihat hubungan antara tiga variabel utama: Tingkat korupsi, Besaran utang luar negeri dan Persentase penduduk miskin

Hasilnya menunjukkan bahwa praktik korupsi masih menjadi faktor signifikan yang memengaruhi efektivitas anggaran pembangunan.

Menurut Mahardika, tingginya kasus korupsi mencerminkan lemahnya pengawasan pengelolaan keuangan negara.

“Jika korupsi terus terjadi, maka dana pembangunan tidak sepenuhnya sampai kepada masyarakat. Dampaknya, program pengentasan kemiskinan tidak berjalan optimal,” jelasnya.

Mahardika juga menyoroti dinamika utang luar negeri Indonesia dalam dua dekade terakhir. Secara teori, utang dapat menjadi instrumen pembangunan apabila digunakan secara produktif dan akuntabel.

Namun, temuan risetnya menunjukkan bahwa penurunan angka kemiskinan belum sepenuhnya sebanding dengan peningkatan utang luar negeri dalam periode yang sama.

“Utang luar negeri seharusnya mampu mendorong pembangunan dan membantu masyarakat keluar dari garis kemiskinan. Penurunan kemiskinan memang ada, tetapi belum signifikan jika dibandingkan dengan kenaikan utangnya,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa utang bukan semata persoalan besar atau kecilnya nominal, melainkan soal efektivitas dan transparansi penggunaannya.

Salah satu temuan yang mengusik Mahardika adalah kesenjangan nyata antara wilayah perkotaan dan daerah terpencil.

Di kota besar, kemiskinan mungkin tidak tampak mencolok. Namun di wilayah tertinggal, akses dasar seperti pendidikan, layanan kesehatan, hingga infrastruktur masih menjadi persoalan serius.

“Di kota besar, kemiskinan mungkin tidak terlalu terlihat. Tapi di daerah terpencil Indonesia, kondisinya sangat terasa,” katanya.

Hal ini menunjukkan bahwa persoalan kemiskinan bukan hanya tentang angka nasional, tetapi juga tentang distribusi kesejahteraan yang belum merata.

Melalui riset ini, Mahardika berharap temuannya dapat menjadi bahan pertimbangan dalam perumusan kebijakan publik, terutama dalam upaya: Pemberantasan korupsi, Penguatan transparansi anggaran dan Optimalisasi pengelolaan utang luar negeri

Menurutnya, pengendalian korupsi bukan sekadar isu moral, melainkan kunci efektivitas pembangunan nasional.

Penelitian ini dibimbing oleh Dr. Arga Christian Sitohang, S.E., M.M. dan sempat menghadapi tantangan keterbatasan data domestik. Mahardika harus cermat dalam memverifikasi dan mengolah sumber informasi internasional.

Mahardika, mahasiswa angkatan 2022, berhasil menyelesaikan studinya dalam waktu 3,5 tahun dan dijadwalkan mengikuti wisuda pada 15 Februari 2026.

Di balik angka-angka statistik dan grafik ekonomi, ada kegelisahan seorang mahasiswa muda yang ingin memastikan bahwa pembangunan benar-benar menyentuh mereka yang paling membutuhkan.

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut