get app
inews
Aa Text
Read Next : Keren! Pameran Naskah Kuno Ulama Nusantara Muncul di Haul 100 Tahun Syaikhona Kholil Bangkalan

Kisah Nyata Syaikhona Kholil, Guru Para Ulama yang Punya Kelebihan Diatas Kiai

Rabu, 18 Februari 2026 | 07:49 WIB
header img
Sosok Syaikhona Kholil Bangkalan dikenal sebagai Syaikh al-Jawiyyin, mahaguru ulama Nusantara yang melahirkan ribuan tokoh pesantren dan pendiri NU. Foto dok NU

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Di sebuah kampung sederhana di Kemayoran, Bangkalan, Madura, lahirlah seorang anak yang kelak mengubah arah sejarah Islam di Nusantara. Ia adalah Syaikhona Muhammad Kholil, ulama kharismatik yang bukan hanya dikenal karena keluasan ilmunya, tetapi juga karena pengaruhnya yang begitu dalam terhadap perjalanan bangsa.

Dikutip dari laman NU, ia lahir pada 25 Mei 1835 M atau 9 Safar 1252 H, dari pasangan KH Abdul Latif dan Nyai Siti Khadijah, Kholil kecil tumbuh dalam lingkungan religius yang kuat. Sejak dini, ayahnya menanamkan nilai-nilai akhlak dan kecintaan terhadap ilmu agama. Harapan keluarga begitu besar, sebab nasabnya tersambung hingga Sunan Gunung Jati dan Rasulullah SAW.

Sejak kecil, kecerdasannya sudah mencolok. Dalam usia muda, ia mampu menghafal seribu bait Alfiyah Ibnu Malik—kitab gramatika Arab yang menjadi rujukan utama pesantren. Ia juga menguasai ilmu nahwu, sharaf, dan fikih dengan kecepatan yang jarang ditemui pada anak seusianya.

Melihat potensi luar biasa itu, sang ayah mengirimnya berkelana dari satu pesantren ke pesantren lain di Madura dan Jawa. Perjalanan intelektualnya lalu berlanjut ke Makkah, pusat keilmuan Islam dunia saat itu.

Menimba Ilmu di Tanah Suci

Di Makkah, Syaikhona Kholil dikenal sebagai santri yang tekun dan disiplin. Bahkan, demi memenuhi kebutuhan hidup, ia menyalin kitab Alfiyah dengan tangan sendiri. Ketekunan dan kedalaman ilmunya membuatnya dihormati para masyayikh.

Pada 1863 M, atas perintah gurunya, ia kembali ke Madura. Di Jengkebuan, Bangkalan, ia mendirikan pesantren yang kelak menjadi pusat lahirnya ulama-ulama besar. Santri berdatangan dari berbagai daerah di Jawa, Madura, hingga Sumatera.

Ketika pesantren berkembang, kepemimpinan diserahkan kepada menantunya, KH Muntaha. Sementara itu, Syaikhona Kholil pindah ke Desa Kademangan, dekat Alun-Alun Bangkalan, membangun kobong dan masjid yang menjadi pusat pengajian masyarakat.

Mahaguru Ulama Nusantara

Kedalaman ilmunya membuatnya dijuluki Syaikh al-Jawiyyin, mahaguru orang-orang Jawa. Diperkirakan sekitar 500 ribu santri pernah belajar di bawah bimbingannya sepanjang hidupnya. Ribuan di antaranya menjadi kiai, pendiri pesantren, dan tokoh masyarakat di berbagai wilayah.

Nama-nama besar lahir dari didikannya, termasuk KH M Hasyim Asy'ari, KH Abdul Wahab Hasbullah, dan KH As'ad Syamsul Arifin.

Kontribusi terbesarnya dalam sejarah bangsa adalah perannya sebagai inspirator berdirinya Nahdlatul Ulama. Meski wafat setahun sebelum NU resmi berdiri pada 1926, restu dan arahannya menjadi fondasi kuat lahirnya organisasi Islam moderat terbesar di Indonesia itu.

Sekitar tahun 1920, puluhan ulama Nusantara berkumpul di Bangkalan meminta petunjuknya terkait dinamika pemikiran keislaman saat itu. Pandangannya menjadi pijakan penting dalam menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jamaah di Nusantara.

Tak hanya mengajar, Syaikhona Kholil juga produktif menulis. Beberapa karyanya yang masih dipelajari di pesantren hingga kini antara lain: Al-Matnu as-Syarif (fikih ibadah), As-Silah fi Bayan an-Nikah (fikih pernikahan), Isti’dad al-Maut (fikih jenazah) dan Ratib Syaikhona Kholil (wirid dan doa)

Karya-karya ini menjadi bukti bahwa dedikasinya bukan sekadar mendidik murid, tetapi juga meninggalkan warisan literasi keislaman.

Syaikhona Muhammad Kholil wafat pada 29 Ramadhan 1343 H atau 1925 M. Kepergiannya menjadi duka besar umat Islam Nusantara. Ratusan ribu orang mengiringi pemakamannya. Hingga kini, makamnya di Martajasah, Bangkalan, tak pernah sepi dari peziarah.

Lebih dari sekadar ulama, Syaikhona Kholil adalah cahaya yang menyalakan lentera-lentera ilmu di berbagai penjuru negeri. Ia mendidik generasi, menginspirasi organisasi besar seperti Nahdlatul Ulama, dan menjaga wajah Islam Nusantara tetap teduh dan moderat.

Warisan itu tak lekang oleh waktu. Dari Bangkalan, jejaknya terus hidup dalam doa para santri dan denyut pesantren di seluruh Indonesia

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut