Realisasi Investasi Jatim 2025 Capai Rp147,7 Triliun, Industri Makanan Masih Jadi Primadona
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) mencatat realisasi investasi sepanjang tahun 2025 mencapai Rp147,7 triliun.
Angka tersebut tidak hanya memenuhi target, tetapi juga menunjukkan tren pertumbuhan positif serta memperkuat posisi Jatim sebagai salah satu destinasi investasi utama di Indonesia.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jatim, Dyah Wahyu Ermawati, mengatakan capaian tersebut setara dengan 100,1 persen dari target yang telah ditetapkan dalam Rencana Strategis.
“Realisasi investasi tahun 2025 mencapai Rp147,7 triliun. Artinya, target yang ditetapkan telah terpenuhi, bahkan sedikit melampaui,” ujarnya, Selasa (17/3/2026).
Ia menjelaskan, untuk tahun 2026, target investasi dipatok minimal setara dengan capaian tahun sebelumnya. Bahkan, pemerintah daerah mendorong agar realisasi investasi bisa melampaui angka tersebut.
“Target 2026 ini kurang lebih sama, sekitar Rp147,7 triliun. Namun, kami berharap bisa melampaui capaian tersebut,” jelasnya.
Sementara itu, untuk tahun 2027, target investasi diproyeksikan meningkat menjadi Rp148 triliun. Menurutnya, dengan capaian yang sudah tinggi, menjaga tren pertumbuhan menjadi tantangan tersendiri.
“Ke depan kita tidak bisa turun, karena basisnya sudah tinggi. Jadi harus terus dijaga bahkan ditingkatkan,” tambahnya.
Dari sisi sektor, Dyah menyebut sejumlah industri diperkirakan akan mendominasi investasi di Jatim pada 2026. Di antaranya industri makanan, kimia, aluminium, smelter, hingga industri logam lainnya.
“Variasi industri ini diharapkan bisa mendorong pemerataan investasi, tidak hanya terpusat di wilayah tertentu, tetapi juga menyebar ke berbagai daerah di Jatim,” katanya.
Selain itu, investasi tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan penyerapan tenaga kerja. Sepanjang 2025, tercatat sebanyak 347.328 tenaga kerja berhasil terserap, meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya.
Dyah juga menyoroti dinamika investasi global yang masih cenderung bersifat “wait and see”, khususnya bagi investor besar dari luar negeri. Meski demikian, ia menegaskan bahwa pemerintah tetap menjaga kepercayaan investor, terutama skala kecil dan menengah.
“Kita jaga kepercayaan mereka dengan pelayanan yang baik. Jika ada kendala, kita bantu selesaikan. Itu menjadi promosi efektif agar mereka tetap bertahan dan bahkan mengajak investor lain masuk ke Jatim,” jelasnya.
Menurutnya, iklim investasi yang kondusif menjadi kunci utama untuk menarik lebih banyak investor, baik dari dalam maupun luar negeri, di tengah ketidakpastian global.
“Harapannya, investasi besar juga segera masuk. Tapi yang kecil dan menengah tetap kita rawat, karena itu juga penting bagi pertumbuhan ekonomi daerah,” pungkasnya.
Editor : Arif Ardliyanto