Tak Lagi Jadi Beban, Sampah di Surabaya Kini Diubah Jadi Sumber Energi
Rencana pembangunan fasilitas PSEL akan dipusatkan di kawasan Sumberejo, Kecamatan Pakal, Surabaya. Lokasi ini dipilih untuk mendukung pengolahan sampah skala besar yang terintegrasi antarwilayah.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga berkomitmen mengawal proyek ini, mulai dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan di lapangan. Pengawasan dilakukan agar seluruh proses berjalan transparan dan sesuai regulasi.
Namun, Khofifah mengingatkan bahwa keberhasilan program ini tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis.
“Ada ikhtiar lahir dan batin. Kita ingin upaya ini tidak hanya berhasil secara teknis, tetapi juga membawa keberkahan bagi masyarakat,” tuturnya.
Di sisi lain, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengungkapkan, meski kota ini telah memiliki fasilitas pengolahan sampah di Benowo, kapasitasnya masih belum cukup menampung seluruh timbulan sampah harian.
Saat ini, produksi sampah di Surabaya mencapai sekitar 1.800 ton per hari. Sementara fasilitas yang ada baru mampu mengolah sekitar 1.000 ton.
Artinya, masih ada sekitar 800 ton sampah yang belum tertangani secara optimal.
“Karena itu kami mengusulkan penambahan fasilitas waste to energy agar sisa sampah tersebut bisa tertangani,” jelas Eri.
Jika proyek baru ini terealisasi, beban pengolahan sampah di Surabaya akan terbagi, sekaligus memperkuat sistem pengelolaan berbasis kawasan.
Menariknya, proyek ini tidak hanya bergantung pada Surabaya. Untuk memenuhi kapasitas produksi listrik, pemerintah kota menggandeng daerah sekitar seperti Gresik, Sidoarjo, dan Lamongan.
Kerja sama ini dinilai menjadi model baru dalam pengelolaan sampah metropolitan, di mana persoalan lingkungan ditangani secara bersama, bukan parsial.
Selama ini, Surabaya sendiri sudah dikenal sebagai salah satu kota percontohan nasional dalam pengolahan sampah menjadi energi. Teknologi yang digunakan di fasilitas Benowo dinilai lebih ramah lingkungan dan efisien.
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq memberikan apresiasi atas capaian Jawa Timur dalam pengelolaan sampah.
Menurutnya, provinsi ini mencatat angka pengelolaan sampah tertinggi di Indonesia, yakni mencapai 52,7 persen. Angka tersebut jauh di atas rata-rata nasional yang masih berada di kisaran 24,95 persen.
Tak hanya itu, praktik pembuangan sampah terbuka (open dumping) di Jawa Timur juga terus berkurang.
“Ini menunjukkan progres nyata. Jawa Timur bisa menjadi barometer nasional dalam pengelolaan sampah,” tegasnya.
Ia pun mendorong daerah lain untuk meniru langkah Jawa Timur dalam mengelola sampah secara lebih modern dan berkelanjutan.
Di balik angka dan kebijakan, ada harapan besar dari masyarakat. Sampah yang dulu dianggap beban kini perlahan diubah menjadi sumber energi dan peluang.
Jika proyek ini berjalan sesuai rencana, bukan hanya listrik yang dihasilkan, tetapi juga kualitas hidup warga yang meningkat.
Lingkungan lebih bersih, udara lebih sehat, dan kota yang lebih nyaman untuk ditinggali—itulah mimpi yang kini mulai dibangun dari tumpukan sampah.
Editor : Arif Ardliyanto