Viral! Cara Unik Sekolah di Surabaya Sambut Siswa, Bukan Belajar tapi Bikin Ketupat
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Suasana masuk sekolah usai libur panjang Idulfitri biasanya identik dengan rasa malas dan adaptasi ulang. Namun, hal berbeda justru terjadi di SMP Wijaya Putra Surabaya. Alih-alih langsung kembali ke pelajaran formal, para siswa diajak merasakan pengalaman unik: belajar menganyam ketupat dari nol.
Kegiatan bertajuk Ketupat Vaganza ini langsung mencuri perhatian. Setiap siswa memegang janur—daun kelapa muda yang masih segar—dan mencoba merangkainya menjadi bentuk ketupat. Tidak sedikit yang tampak kebingungan di awal, namun suasana hangat dan penuh tawa membuat proses belajar terasa jauh dari kata membosankan.
Di sudut-sudut kelas, terlihat siswa saling membantu. Ada yang sudah terbiasa karena belajar dari keluarga, ada pula yang benar-benar baru pertama kali mencoba. Interaksi sederhana itu justru menghadirkan nuansa kebersamaan yang kental, seolah semangat Idulfitri masih terasa di lingkungan sekolah.

Kepala SMP Wijaya Putra Surabaya, Roto Kirono, S.Pd, mengungkapkan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pengisi waktu di hari pertama sekolah.
“Melalui Ketupat Vaganza, kami ingin mengembalikan semangat belajar siswa setelah libur panjang. Lebih dari itu, ini menjadi cara sederhana untuk mengenalkan dan menjaga budaya yang mulai jarang dikuasai generasi muda,” ujarnya.
Menurutnya, ketupat bukan hanya makanan khas Lebaran, tetapi juga simbol nilai-nilai kehidupan seperti kebersamaan, kesederhanaan, hingga tradisi saling memaafkan.
Hal itu dirasakan langsung oleh para siswa. Naura, siswi kelas VIII, mengaku awalnya kesulitan saat mencoba menganyam janur. Namun, justru dari proses itulah ia merasakan pengalaman baru yang menyenangkan.
“Seru banget, biasanya cuma lihat ketupat sudah jadi. Ternyata bikinnya tidak mudah, tapi jadi pengalaman baru yang asyik,” katanya sambil tersenyum.
Senada dengan itu, siswa lainnya juga menyebut kegiatan ini membuat hari pertama sekolah terasa lebih ringan dan penuh semangat. Tidak ada rasa tegang, justru yang muncul adalah antusiasme untuk kembali ke sekolah.
Lebih dari sekadar kegiatan kreatif, Ketupat Vaganza menjadi bukti bahwa pembelajaran tidak selalu harus berada di dalam buku. Di tengah arus modernisasi, langkah sederhana seperti ini justru menjadi cara efektif untuk menanamkan nilai budaya kepada generasi muda.
SMP Wijaya Putra Surabaya menunjukkan bahwa sekolah bisa menjadi ruang yang tidak hanya mendidik secara akademis, tetapi juga menghidupkan kembali tradisi yang mulai terlupakan. Sebuah awal yang hangat untuk kembali menapaki hari-hari belajar.
Editor : Arif Ardliyanto