Dinas Pendidikan Jatim Dorong Mediasi dalam Penanganan Kasus Perundungan di Jember
SURABAYA, iNewsSurabaya.id - Kasus dugaan perundungan yang dialami seorang siswa SMA di Kabupaten Jember, Jawa Timur (Jatim) memasuki tahap penyelidikan oleh kepolisian.
Korban berinisial F (15), warga Kecamatan Kencong, diduga mengalami kekerasan oleh sejumlah remaja di wilayah Kecamatan Jombang.
Kepala Dinas Pendidikan Jatim, Aries Agung Paewai, menegaskan bahwa kejadian tersebut tidak sepenuhnya berada dalam lingkup tanggung jawab sekolah. “Perlu dipahami, tidak semua pelaku berasal dari satu sekolah dan kejadian berlangsung di luar jam sekolah. Pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga orang tua dan masyarakat,” ujarnya, Sabtu (4/4/2026).
Ia menambahkan, pihaknya telah memanggil orang tua para pihak dan mendorong penyelesaian melalui pendekatan mediasi. Aries juga berharap kejadian serupa tidak terulang, baik di lingkungan sekolah maupun di luar.
“Kami berharap ada kesadaran bersama untuk saling menjaga. Komitmen bahwa tidak ada perundungan harus dijaga, tidak hanya di sekolah tetapi juga di lingkungan masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Kanit PPA Satreskrim Polres Jember, Alfan Febrianto, menyampaikan bahwa penanganan kasus masih berada di Polsek Jombang dan masih dalam tahap penyelidikan awal.
“Penanganan masih di Mapolsek Jombang dan belum dilimpahkan ke kami. Saat ini masih tahap lidik, perkembangan akan kami sampaikan,” ujarnya.
Dinas Sosial (Dinsos) Jember melalui Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) turut memberikan pendampingan, terutama untuk pemulihan kondisi psikologis korban.
Kabid P3A Dinsos Jember, Sugeng Riyadi, mengatakan pihaknya juga mendampingi para terduga pelaku untuk memastikan kondisi mental seluruh pihak tetap terjaga.
Berdasarkan pendampingan awal, para terduga pelaku diketahui berasal dari beberapa sekolah berbeda di wilayah Jombang dan Kencong, bahkan sebagian masih berstatus siswa SMP. Sebagian dari mereka juga disebut memiliki hubungan pertemanan lama dengan korban sejak jenjang sebelumnya.
Peristiwa ini diduga dipicu oleh persoalan pribadi yang berkembang di luar lingkungan sekolah, termasuk adanya pesan suara yang beredar melalui ponsel. Namun, motif pasti masih dalam proses pendalaman oleh pihak kepolisian.
Editor : Arif Ardliyanto