Pemanfaatan Dana Umat Tak Maksimal, Ulama dan Akademisi Bahas Kolaborasi Trust Fund di Unair
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Upaya mengoptimalkan potensi dana umat di Jawa Timur mulai memasuki babak baru. Sejumlah ulama dan akademisi berkumpul di Universitas Airlangga (Unair) untuk merumuskan langkah strategis dalam mengembangkan filantropi Islam yang lebih produktif dan berkelanjutan.
Forum yang digelar di Gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Kampus B Unair ini menjadi momen penting, mempertemukan dua kekuatan besar: pemikiran keagamaan dan pendekatan akademis dalam satu meja kolaborasi. Fokus utama pembahasan adalah inisiasi trust fund (dana abadi) sebagai solusi pengelolaan dana umat yang selama ini dinilai belum maksimal.
Kolaborasi ini diinisiasi oleh Komisi Pengembangan Dana Umat dan Filantropi (PDUF) MUI Jawa Timur, yang menggandeng FEB Unair untuk mempercepat transformasi model filantropi dari pola konsumtif menuju produktif.

Dekan FEB Unair, Rudi Purwono, hadir langsung dalam pertemuan tersebut bersama jajaran pimpinan fakultas dan para guru besar. Ia menilai langkah ini sebagai peluang strategis dalam menjawab tantangan ekonomi masyarakat.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi PDUF MUI Jawa Timur, Mochamad Badowi, menegaskan bahwa trust fund merupakan pendekatan modern yang mampu menjaga keberlanjutan dana umat.
“Konsepnya sederhana namun berdampak besar. Aset pokok harus tetap terjaga, sementara hasil pengelolaannya terus dimanfaatkan. Dengan begitu, dana umat tidak habis, tapi justru berkembang,” ujarnya.
Menurutnya, tahap awal implementasi akan difokuskan pada penguatan pondok pesantren dan yayasan masjid di Jawa Timur. Targetnya, terbentuk ekosistem pendanaan produktif yang saling terhubung dan mampu menggerakkan ekonomi berbasis komunitas.
Dari sisi akademik, Imron Mawardi melihat potensi dana umat di Indonesia sangat besar dan belum tergarap optimal.
“Jika dikelola dengan baik, nilainya bisa mencapai 30 persen dari PDB. Ini kekuatan besar untuk mendorong pendidikan dan pemberdayaan ekonomi umat secara lebih terarah,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya arah pengelolaan yang jelas agar trust fund memiliki keunggulan dan dampak nyata di masyarakat.
Senada, Radity Sukmana mengapresiasi langkah progresif MUI Jawa Timur dalam mengembangkan wakaf produktif berbasis trust fund sebagai inovasi filantropi Islam.
Dari sisi kelembagaan, Wakil Dekan III FEB Unair, Novrys Suhardianto, menyoroti pentingnya penguatan konsep berbasis riset.
“Kami mendorong penyusunan naskah akademik atau white paper agar program ini memiliki arah yang jelas, mulai dari tujuan, target, hingga tata kelola dan aspek teknis,” ujarnya.
Ia juga membuka peluang kolaborasi yang lebih luas, seperti riset bersama, pelibatan mahasiswa lintas jenjang, hingga forum akademik berkelanjutan antara kampus dan MUI.
Wakil Dekan I FEB Unair, Tika Widiastuti, bahkan menyebut MUI Jawa Timur sebagai salah satu yang paling progresif dalam pengembangan filantropi Islam di Indonesia.
Menutup pertemuan, Rudi Purwono menegaskan bahwa sinergi ini bukan sekadar wacana, melainkan langkah konkret untuk menekan angka kemiskinan.
“Dimulai dari edukasi hingga implementasi, trust fund ini berpotensi menjadi motor penggerak kemandirian ekonomi umat,” tegasnya.
Pertemuan ini menjadi sinyal kuat bahwa pengelolaan dana umat kini bergerak ke arah yang lebih modern, terstruktur, dan berkelanjutan. Dengan keterlibatan ulama dan akademisi, trust fund diharapkan mampu menjadi fondasi baru dalam membangun kemandirian ekonomi umat di Jawa Timur.
Editor : Arif Ardliyanto