Dari Foto Liputan hingga Panggung Teater, Kisah Tokoh Inspiratif Indonesia Sulut Semangat Mahasiswa
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Ribuan pasang mata memenuhi Airlangga Convention Center, namun suasana hening ketika Najwa Shihab mengangkat selembar foto lusuh, gambar dari liputan perdananya dua dekade silam.
“Inilah titik mula saya jatuh cinta pada jurnalisme,” ungkapnya lirih.
Bukan sekadar seminar, acara Generasi Campus Roadshow 2025 ini menjadi panggung bagi kisah-kisah pribadi yang membentuk sosok-sosok besar Indonesia.
Lebih dari 4.000 mahasiswa Universitas Airlangga hadir dalam gelaran bertema “Passion in Action: Powered Your Purpose”. Sebuah kolaborasi besar antara Grab Indonesia dan para figur publik kreatif dari jurnalis, penulis, aktor hingga konten kreatoryang tidak hanya berbicara, tetapi juga berbagi perjalanan hidup mereka secara jujur dan reflektif.
Bagi Najwa Shihab, jurnalisme bukan sekadar pekerjaan melainkan panggilan jiwa. Dalam sesi dialog, ia menceritakan bagaimana foto liputan banjir Jakarta yang ia bawa menjadi simbol perubahan hidupnya.
“Passion tanpa purpose akan usang oleh waktu,” ujar pendiri Narasi itu, menekankan pentingnya nilai dan empati dalam setiap karya jurnalistik. Ia mengajak mahasiswa untuk terus bertanya dan tidak cepat puas. “Belajar bukan fase, tapi napas,” katanya.
Sementara itu, Raditya Dika membawa buku pertamanya Kambing Jantan sebagai pengingat bahwa keberhasilan bisa lahir dari kejujuran menertawakan diri sendiri. Penulis sekaligus sutradara ini membagikan bagaimana ia bertaruh segalanya pada keotentikan.
“Jangan kejar tren, kejarlah apa yang benar-benar kamu yakini,” ucap Radit dalam sesi Un-Class, kelas eksklusif yang memberikan ruang belajar langsung kepada mahasiswa. Ia mengungkapkan, menjadi lucu itu bakat, tapi menjadi relevan dan bertahan, adalah soal ketekunan.
Nicholas Saputra hadir bukan sebagai selebritas, tetapi sebagai pribadi yang menjalani proses panjang menemukan makna dari setiap peran. Ia bercerita tentang pengalamannya mengikuti casting pertamanya—sebuah momen yang akhirnya mengarahkannya ke film legendaris Ada Apa dengan Cinta?
Editor : Arif Ardliyanto