Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Hari Keempat Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Krakatau, PWI Jatim Gelar Doa Bersama
Advertisement . Scroll to see content

Inspiratif! Gerakan Kelola Sampah Berbasis Komunitas Sabet Penghargaan PWI Jatim, Ini Sosok Tokohnya

Sabtu, 18 April 2026 | 09:23 WIB
  • author Arif Ardliyanto
Inspiratif! Gerakan Kelola Sampah Berbasis Komunitas Sabet Penghargaan PWI Jatim, Ini Sosok Tokohnya
Edi Priyanto meraih PWI Jatim Award 2026 berkat gerakan Kampung Edukasi Sampah yang mengedukasi ribuan warga Surabaya tentang lingkungan berkelanjutan. Foto arif

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Suasana peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Jawa Timur terasa berbeda. Di tengah gemerlap acara yang digelar di Dyandra Convention Center, perhatian publik justru tertuju pada sosok sederhana yang selama ini bekerja senyap di tengah masyarakat.

Ia dianugerahi PWI Jatim Award 2026 sebagai Tokoh Pegiat Lingkungan, sebuah penghargaan yang tak sekadar simbolik, melainkan pengakuan atas kerja panjangnya membangun kesadaran lingkungan dari akar rumput.

Bagi Edi, perubahan besar tidak lahir dari ruang rapat atau konsep besar di atas kertas. Ia memulainya dari lingkungan terdekat: kampung.

Melalui Kampung Edukasi Sampah, Edi mengajak warga memahami persoalan lingkungan dengan cara sederhana dan membumi. Di sana, masyarakat tidak hanya diajak memilah sampah, tetapi juga memahami bagaimana limbah bisa bernilai ekonomi.

Setiap sudut kampung menjadi ruang belajar. Anak-anak, ibu rumah tangga, hingga pelajar dan institusi datang silih berganti untuk melihat langsung praktik pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Tak kurang dari 3.000 orang setiap tahun mendapatkan edukasi langsung. Mereka belajar tentang pemilahan sampah, pengolahan limbah, hingga konsep ekonomi sirkular yang kini mulai menjadi perhatian global.

Saat menerima penghargaan, Edi tidak menempatkan dirinya sebagai tokoh utama. Ia justru menegaskan bahwa capaian tersebut adalah hasil kerja bersama.

“Penghargaan ini milik bersama. Ini gerakan warga, dari warga, dan untuk warga. Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten,” ujarnya.

Baginya, kunci utama perubahan adalah edukasi. Ketika masyarakat paham, mereka akan bergerak dengan kesadaran sendiri, bukan karena paksaan.

Tak hanya bergerak di lapangan, Edi juga menuangkan gagasannya melalui karya tulis. Buku seperti “Lokal Hero, RT dan RW Sebagai Penggerak Perubahan Masyarakat” dan “Transformasi Permukiman, Kelola Lingkungan Berkelanjutan” menjadi bukti bahwa perubahan bisa direplikasi di berbagai daerah.

Karya tersebut kini menjadi referensi bagi komunitas hingga pemerintah dalam mengembangkan pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat.

Peringatan HPN 2026 yang juga bertepatan dengan HUT ke-80 PWI Jawa Timur dihadiri sejumlah tokoh penting, seperti Emil Elestianto Dardak, Menteri Haji dan Umrah RI Mochamad Irfan Yusuf, serta Ketua Umum PWI Akhmad Munir.

Dalam sambutannya, Akhmad Munir menyoroti tantangan dunia pers di era digital. Ia menekankan pentingnya menjaga akurasi, meningkatkan kapasitas teknologi, dan tetap berpegang pada kode etik jurnalistik.

Hal senada disampaikan Emil Dardak. Ia menilai peran pers tetap vital di tengah derasnya arus informasi di media sosial.

“Tanpa proses verifikasi dan akurasi dari pers, sulit membayangkan masyarakat mendapatkan informasi yang benar,” ujarnya.

Selain penghargaan kepada tokoh inspiratif, PWI Jawa Timur juga memberikan Piala Prapanca bagi insan pers kategori karya tulis dan foto jurnalistik.

Namun lebih dari itu, momentum HPN 2026 menjadi pengingat bahwa kolaborasi antara pers, pemerintah, dan masyarakat adalah kunci perubahan.

Kisah Edi Priyanto menjadi bukti nyata: perubahan lingkungan tidak harus dimulai dari hal besar. Cukup dari satu kampung, satu gerakan, dan satu komitmen yang dijaga bersama.

Editor: Arif Ardliyanto

Related News

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut