Petani Lereng Arjuna Beralih ke Kentang, Panen Lebih Cepat Tak Perlu Tunggu Setahun
PASURUAN, iNewsSurabaya.id – Udara sejuk lereng Gunung Arjuna di kawasan Prigen tak hanya menyimpan keindahan alam, tetapi juga cerita perjuangan para petani yang kini mulai bangkit. Di tengah tantangan ekonomi dan ketergantungan pada hasil kopi musiman, secercah harapan hadir lewat perubahan cara bertani yang lebih cepat menghasilkan.
Dulu, warga menggantungkan hidup dari kopi yang hanya bisa dipanen setahun sekali. Kini, mereka mulai beralih ke komoditas hortikultura yang lebih menjanjikan: kentang. Dalam waktu sekitar tiga hingga empat bulan, hasil panen sudah bisa dinikmati.
Perubahan ini tidak terjadi begitu saja. Ada peran program sosial Eco Agro Preneur yang digagas PLN Indonesia Power UBP Grati Pasuruan. Program ini menyasar kelompok perhutanan sosial dengan pendekatan pendampingan intensif dan berkelanjutan.

Muhammad Asmadi, Comdev Officer PLN Indonesia Power UBP Grati, menjelaskan bahwa pihaknya melihat potensi besar di kawasan lereng Arjuna, namun belum dimaksimalkan secara optimal.
“Selama ini kopi menjadi sumber penghasilan utama, tapi sifatnya tahunan. Kami mencoba menghadirkan alternatif melalui budidaya kentang agar petani bisa mendapatkan pemasukan lebih cepat,” ujarnya.
Tak sekadar memberikan bantuan bibit, program ini juga menyentuh aspek yang lebih dalam. Para petani mendapatkan pelatihan, pendampingan dari praktisi, hingga dukungan pemasaran hasil panen. Dengan begitu, mereka tidak berjalan sendiri.
Sejak dimulai pada 2023, program ini terus berkembang. Bahkan pada 2026, budidaya kentang ditetapkan sebagai fokus utama penguatan ekonomi masyarakat.
“Kami ingin petani tidak hanya panen, tapi juga memahami proses dari awal sampai penjualan. Harapannya, mereka bisa mandiri dan berkelanjutan,” tambah Asmadi.
Di lapangan, perubahan mulai terasa. Yono, salah satu anggota Kelompok Tani LPHD Arjuna Lestari, mengaku kini lebih optimistis menatap masa depan.
Ia masih mengingat bagaimana awalnya mereka harus belajar dari nol, mulai dari studi banding hingga pelatihan pembuatan pupuk.
“Sekarang kami sudah bisa menanam sendiri dengan pendampingan. Panennya sekitar tiga bulan lebih sedikit. Ini jauh lebih cepat dibanding kopi,” katanya.

Dengan lahan sekitar 30 x 30 meter, Yono dan kelompoknya mulai merasakan manfaat nyata. Tak hanya hasil panen yang lebih cepat, pemasaran pun dibantu sehingga mereka tidak kesulitan menjual produk.
Menariknya, program ini tidak hanya mengejar keuntungan ekonomi. Pendekatan ramah lingkungan juga menjadi perhatian utama. Salah satunya melalui metode tumpang sari atau intercropping, yakni menanam beberapa jenis tanaman dalam satu lahan.
Metode ini membuat lahan lebih produktif sekaligus menjaga keseimbangan alam. Selain itu, petani juga didorong menerapkan pertanian organik serta melakukan penghijauan di kawasan lereng, termasuk penanaman pohon beringin.
Langkah ini menjadi penting untuk menjaga ekosistem sekaligus mencegah kerusakan lingkungan di kawasan pegunungan.
Perlahan tapi pasti, perubahan mulai terlihat. Dari lahan-lahan kecil di lereng Arjuna, tumbuh harapan baru: petani yang lebih mandiri, lingkungan yang tetap terjaga, dan ketahanan pangan yang semakin kuat di tingkat lokal.
Program ini bukan sekadar bantuan, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan masyarakat desa.
Editor : Arif Ardliyanto