Industri Tembakau Resah, Larangan Bahan Tambahan Dinilai Bisa Matikan Kretek
Di balik angka-angka produksi yang mencapai ratusan miliar batang per tahun, terdapat jutaan cerita kehidupan. Industri hasil tembakau legal di Indonesia saat ini mencakup ratusan perusahaan, dengan ratusan ribu tenaga kerja yang menggantungkan hidupnya pada sektor ini. Jawa Timur sendiri menjadi salah satu pusat utama, dengan kontribusi tenaga kerja yang signifikan secara nasional.
Kekhawatiran lain yang mengemuka adalah potensi meningkatnya peredaran rokok ilegal. Ketika regulasi dinilai terlalu ketat dan harga produk legal berpotensi naik, konsumen dikhawatirkan beralih ke alternatif yang lebih murah namun tidak terkontrol.
“Pasar itu selalu mencari keseimbangan. Kalau produk legal sulit diakses atau terlalu mahal, ruang bagi rokok ilegal akan terbuka,” ujarnya.
Selain itu, dampak berantai juga diprediksi akan dirasakan oleh sektor hulu, terutama petani tembakau. Jika industri harus menyesuaikan dengan standar bahan baku tertentu yang lebih rendah kadar nikotinnya, bukan tidak mungkin ketergantungan terhadap tembakau impor akan meningkat.
Hal ini berpotensi menggeser peran petani lokal yang selama ini menjadi tulang punggung pasokan bahan baku industri kretek nasional.
Sulami menekankan pentingnya pendekatan kebijakan yang mempertimbangkan konteks Indonesia. Ia berharap pemerintah tidak hanya mengadopsi standar dari negara lain tanpa melihat perbedaan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya.
“Kami tidak menolak aturan, tapi perlu ada dialog. Industri ini sudah diatur oleh ratusan regulasi. Yang dibutuhkan sekarang adalah kebijakan yang seimbang, antara kesehatan publik dan keberlangsungan usaha,” katanya.
Gapero Surabaya juga mendorong agar pelaku industri dilibatkan dalam proses perumusan kebijakan. Dengan begitu, diharapkan solusi yang dihasilkan tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga aplikatif di lapangan.
Di tengah dinamika ini, suara para buruh menjadi bagian yang tak terpisahkan. Ancaman pengurangan tenaga kerja hingga kemungkinan dirumahkan menjadi kekhawatiran nyata jika industri tidak mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan regulasi.
“Yang paling terasa nanti pasti pekerja dan petani. Kalau kondisi ini terjadi, perusahaan bisa saja mengambil langkah efisiensi,” tambahnya.
Kini, industri kretek berada di titik krusial. Di satu sisi, ada tuntutan untuk mengikuti standar kesehatan yang semakin ketat. Di sisi lain, ada realitas sosial-ekonomi yang melibatkan jutaan orang di dalamnya.
Ke depan, keseimbangan antara regulasi dan keberlangsungan hidup para pelaku industri menjadi kunci agar kebijakan yang diambil tidak hanya tepat sasaran, tetapi juga berkeadilan.
Ketua Gapero Surabaya, Sulami Bahar bersama Sekretaris Gapero Surabaya, Didik Suharsono mengatakan, kebijakan yang bakal diterapkan pemerintah bakal banyak dampak yang terjadi.
"Yang paling terasa dampaknya iya petani dan karyawan. Kita pasti akan ada merumahkan karyawan," katanya.
Editor : Arif Ardliyanto